Pedanda Ngurah: Yoga Gunung

Putra-putri Tradisi Utama Bali (2)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

DESA Blayu, Tabanan, sepanjang pertengahan abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 menjadi salah satu simpul denyut aliran sungai susastra-agama klasik Bali. Denyut itu ditandai dengan keberadaan Ida Pedanda Ngurah sebagai mata air sastra-agama di Geria Gede Blayu. Dari kawi-wiku, pendeta sekaligus sastrawan, inilah kelak mengalir tidak hanya sejumlah teks-teks koleksi dan salinan penting dalam khazanah susastra-agama di Bali, tetapi juga lahir karya-karya baru yang memperkaya isi lumbung peradaban batin-rohani Bali. Continue reading “Pedanda Ngurah: Yoga Gunung”

Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’

Kurniawan
majalah.tempointeraktif.com

KEDAI buku beratap seng itu terletak di bagian dalam pasar buku Pasar Senen, Jakarta. Tanpa papan nama, seperti kebanyakan kedai buku di sana.

Sebuah meja besar memenuhi kedai itu. Di atasnya bertumpuk buku teka-teki silang yang biasa dijajakan pengasong di terminal. Beberapa novel remaja murahan tertata di salah satu rak. Di dinding lain ada beberapa komik tipis Petruk-Gareng dan novel horor Mira Karmila yang sudah berdebu. Continue reading “Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’”

Waktu dan Mahabharata

Nyoman S Pendit
http://www.balipost.co.id/

WAKTU adalah waktu, waktu adalah peristiwa, waktu adalah sejarah. Hanya waktu yang dapat mengisahkan masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Hanya waktu yang dapat mengisahkan peristiwa besar Mahabharata, sebuah kisah kepahlawanan abadi. Waktulah yang mengisahkan jatuh bangunnya suatu kebudayaan dan peradaban. Waktu pulalah yang mengisahkan permusuhan antara kebenaran melawan semua yang tak benar. Mahabharata adalah kisah vidya (cahaya ilahi) berhadapan dengan avidya (kegelapan). Tidak ada siapa pun yang dapat mengisahkan karya besar ini kecuali waktu. Sebab hanya waktulah yang menjadi saksi sejarah, walau mengenai tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu peristiwa. Continue reading “Waktu dan Mahabharata”

Geliat Seni Aceh Pasca-Tsunami

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika

Dilanda konflik disintegrasi selama puluhan tahun, dan diterjang tsunami pada 28 Desember 2004, seni-budaya Aceh tidak lantas punah. Pasca-tsunami, seni-budaya Serambi Mekah justru menggeliat bangkit. Begitu juga kehidupan sastranya. Ribuan karya kembali ditulis dan ratusan buku sastra terbit pasca-tsunami. Seni khas Aceh pun berkali-kali dipertunjukkan kembali dalam berbagai iven kesenian. Continue reading “Geliat Seni Aceh Pasca-Tsunami”

Bahasa ยป