LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8-12)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8)

Kalau awak boleh berterus terang, bagian ini awak tulis dengan susah payah. Kenapa menulis begini saja prosesnya susah seperti menulis karya agung saja. “Cerita begini tak lebih dari cerita biasa saja, malah terkesan terlalu didramatisasi. Tak heran kalau akhirnya memang menjadi cerita melodrama. Untuk menulis cerita begini, menyambung cerita sebelumnya, apa susahnya.” Begitulah kurang lebih ujar Raden Harya Sengkuni alias Tri Gantal Pati, salah satu tokoh cerita “Lenga Tala” yang sedang awak tulis ini. “Cepat lanjutkan,” desaknya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (8-12)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (4)

Sunu Wasono

Segala sesuatu ada saatnya, juga ada batasnya. Demikian pun ketika mendongeng. Kalau orang disuruh mendongeng terus tentu tak kuat. Bila kuat sekalipun, hasilnya tak akan maksimal. Bagaimanapun perlu istirahat. Kini setelah awak beristirahat–sebetulnya tak tepat disebut istirahat, karena begitu penulisan bagian (3) awak hentikan, awak salat, lalu menjemput anak dan baru sekarang tiba di rumah–awak ingin melanjutkan cerita. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (4)”

Bahasa ยป