LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (41-49)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (41)

Awak harus ceritakan dulu tentang kasus awak dengan Lik Mukidi sebelum kisah “Lenga Tala” awak lanjutkan. Mudah-mudahan ke depan tak ada lagi kisah-kisah selipan begini dalam kisah “Lenga Tala.” Mudah-mudahan ini yang terakhir. Sudah awak ceritakan sebelumnya bahwa Lik Mukidi tak jadi bermain ke rumah awak, padahal sudah awak siapkan sepiring rondo royal untuknya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (41-49)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (34-40)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (34)

Sejujurnya ketika awak akan mengawali cerita di bagian ini awak harus membaca paling tidak dua bagian cerita sebelumnya. Empat hari tak berhubungan dengan cerita yang sedang ditulis rasanya seperti kehilangan tali rasa sehingga ketika hendak menulis lanjutannya butuh semacam pemanasan. Tak hanya olahraga dan olah cinta yang membutuhkan pemanasan. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (34-40)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (22-33)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (22)

Sebelum awak melanjutkan cerita “Lenga Tala” awak sampaikan dulu sedikit catatan. Sejujurnya awak lagi menghadapi satu masalah yang lumayan bikin awak pusing. Apa masalah itu? Buku! Sudah lama awak ingin memindahkan buku ke tempat atau ruang yang lebih “aman”. Masalahnya, ruang itu belum ada. Untuk membuat ruang, dibutuhkan uang dan tukang. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (22-33)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (18-21)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (18)

Kalau saja Lik Mukidi tak merecoki, cerita “Lenga Tala” ini sudah awak selesaikan kemarin. Coba sampeyan pikir, lagi asyik-asyiknya menulis, dia bilang bahwa dirinya sudah tahu akhir ceritanya. “Tak seru dan tak lucu. Akhirnya cuma begitu saja. Kalau tahu cuma begitu, aku tak mau baca dari awal. Aku pikir ada kejutan. Gak tahunya…huh. Rugi.” Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (18-21)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13)

Kumbayana berdiri. Dikencangkannya ikatan selendang yang melilit di pundaknya agar tak mudah lepas. Dilihatnya putranya masih terlelap. “Anak yang ganteng dan tahu perasaan bapaknya. Baik benar Nak kamu. Tidak rewel. Anteng. Gemes aku. Ayo Nak kita lanjutkan perjalanan. Semoga kita mendapat pertolongan,” kata Bambang Kumbayana kepada anaknya. Tak menoleh ke kanan-kiri, Bambang Kumbayana jalan lurus terus sesuai dengan pesan istrinya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)”

Bahasa ยป