Gambar Mei

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

IA yang meramalkan kematian keluarganya. Pertama ia menggambar ayahnya dan adiknya, kemudian ibunya. Usianya masih empat belas saat itu. Entah mengapa, suatu pagi, seolah dikejar keperluan mendesak, ia mencari-cari pensil dan kertas. Lalu, di atas kertas itu, dengan sangat cepat dan tanpa kedipan mata, ia menggambar sebuah kapal. Kapal itu berlayar di atas lautan luas. Dari dek kapal itu, ayahnya jatuh ke laut. Continue reading “Gambar Mei”

Sepasang Mata Kelabu

Anton Kurnia
Koran Tempo 02/02/03

Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu itu. Saat itu aku baru saja genap enam tahun. Telepon berdering. Ayahku bergegas mengangkatnya. Ia tak berbicara sepatah pun, tapi tampak begitu tegang, darah seolah membeku di wajahnya. Ayahku masuk ke dalam kamar dan segera kudengar ibuku mulai menjerit-jerit. Telepon itu mulai berdering dan terus berdering. Rumah kami terus dipenuhi oleh para karip kerabat dan ibuku terus menerus menjerit. Orang-orang bergerak tanpa arah, wajah mereka tampak sedih. Continue reading “Sepasang Mata Kelabu”

Ketika Gerimis Jatuh

Sapardi Djoko Damono *
Koran Tempo 11/05/03

Gadis kecil itu berpikir begini, nanti kalau ayah pulang kehujanan, kasihan. Tadi lupa bawa payung. Ia sendiri di rumah, seperti biasa. Pembantu bertugas mencuci dan menyeterika, selesai itu pulang-sesudah, tentu saja menyiapkan makan untuknya. Gadis kecil itu biasa dipanggil Rini. Lengkapnya, Satyarini Endah Kurnianingrum. Biasanya beberapa temannya di sekeliling rumahnya suka bermain macam-macam karena orang tuanya Rini suka membelikannya mainan, mulai dari alat masak-memasak sampai mobil-mobilan, meskipun dia anak perempuan. Continue reading “Ketika Gerimis Jatuh”

Pesan Kepergian

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KENAPA kau pergi, Guru. Bukankah pengetahuanmu belum genap kucecap. Ke mana engkau menjejakkan tapak. Tak ada tilasmu untuk kutuju, selain segenggam kenang atas seluruh kehilangan. Tak kau berikan tanda pun sasmita untuk sebuah perpisahan purna. Sepertinya engkau lupa telah mengasuhku sejak mengada. Continue reading “Pesan Kepergian”

Kenangan dalam Bus

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

AKU merantau, seolah semuanya telah menjadi lampau. Tapi tidak. Semuanya baru dimulai ketika ingatanku terasa bangkit kembali di sepanjang jalan yang kulalui. Telah aku seberangi selat dan kulewati kota-kota, dalam sebuah bus tua yang berderak sepanjang jalan, sepanjang siang dan malam. Meskipun dioper bus tiga kali, tetap bus tua juga yang akhirnya membawa diriku dari kota ke kota. Continue reading “Kenangan dalam Bus”

Bahasa ยป