Sepasang Mata Kelabu

Anton Kurnia
Koran Tempo 02/02/03

Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu itu. Saat itu aku baru saja genap enam tahun. Telepon berdering. Ayahku bergegas mengangkatnya. Ia tak berbicara sepatah pun, tapi tampak begitu tegang, darah seolah membeku di wajahnya. Ayahku masuk ke dalam kamar dan segera kudengar ibuku mulai menjerit-jerit. Telepon itu mulai berdering dan terus berdering. Rumah kami terus dipenuhi oleh para karip kerabat dan ibuku terus menerus menjerit. Orang-orang bergerak tanpa arah, wajah mereka tampak sedih.

Aku sedang berada dalam kamar, mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Aku melihat wajah orang-orang dan mendengar suara jeritan ibu. Kurasakan tubuhku beku dan gemetar. Sesuatu telah terjadi pada ibu. Aku tak tahan mendengar jeritan itu. Suara jeritan itu membuatku tersayat-sayat, bagaikan rasa perih saat pecahan kaca suatu kali melukai tanganku, seperti rasa sakit saat kerikil tajam menggores lututku waktu aku terjatuh dari sepeda. Jeritan itu terdengar kian menyayat. Orang-orang menjadi hiruk pikuk. Aku mendengar jeritan meraung. Hening mencekam. Tak terdengar lagi suara jeritan. Aku merasa pasti ibuku telah meninggal dunia. Aku berbaring di lantai kamar, menangis diam-diam.

Kemudian, seseorang teringat padaku. Aku dibawa ke rumah seorang tetangga. Baru keesokan harinya aku dipulangkan. Ibuku ternyata tidak meninggal dunia. Dia sedang berbaring diranjangnya, tapi aku tak boleh menemuinya. Paman Jundi meninggal dunia, ayahku menjelaskan, ia gugur dalam sebuah pertempuran di Maluku. Aku tak terlalu paham, tapi aku merasa pasti tentang satu hal: aku tak akan bisa lagi bermain dengan Paman Jundi.

Paman Jundi adalah salah satu-satunya saudara ibuku. Usia mereka hanya terpaut dua tahun. Kedua orang tua mereka telah tiada. Dia baru saja mengunjungi rumah kami lima hari yang lalu. Dulu namanya Herjuno, tapi kemudian ia ganti nama menjadi Jundullah. Aku tak tahu mengapa. Katanya itu nama yang gagah dan mulia: Tentara Tuhan. aku jiga tak tahu mengapa Tuhan mempunyai tentara. Dan aku memanggilnya Paman Jundi.

Dia tinggal bersama kawan-kawannya tak jauh dari rumah kami. Mereka sumua orang baik, pintar mengaji, dan memelihara jenggot. Tubuh Paman Jundi tinggi dan ramping. Rambutnya ikal, dengan sepasang mata berwarna coklat dan bibir tipis. Jenggotnya jarang-jarang. Dia mirip sekali dengan ibuku. Paman Jundi baik padaku. Ia sering mengajakku bermain dan mengajariku mengaji. Kini ia meninggal dunia dalam usia dua puluh tiga tahun.

Esoknya, ibuku dibawa ke rumah sakit. Malam harinya, kami-ayahku, karib kerabat, para tetangga dan aku-berkumpul di atas karpet. Ada keheningan terasa mencekam. Dan kemudian, ayahku mulai memimpin kami melantumkan sebuah irama yang aneh dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku baru sekali itu mendengarnya. Irama itu seperti doa yang sering diajarkan padaku, tapi juga mirip sebuah nyanyian.

Ada semacam kekuatan gaib dalam caranya mendendangkan irama itu, seolah-olah dia telah melayang-layang yang melintas duniaentah-berantah untuk mencari sumber kekuatan di luar dirinya. Matanya terpejam, dan seseklai terpaku menatap ke depan. Ada semacam keindahan dalam nada yang sedih, semacam rasa sakit dan kerinduan sekaligus dalam suaranya-lembut, bergetar, mendaki dan tiba-tiba menukik jatuh, lalu mendaki lagi. Dan setelah semuanya usai, terasa keheningan terasa mencekam. Dalam keheningan itu seolah-olah mendengar suara jeritan di kejauhan, dan aku merasa takut.

Larut malam, aku terjaga dari mimpiku dan mendengar irama itu lagi. Tadinya kukira aku sedang berada dalam mimpi. Tapi pada saat benar-benar sadar bahwa aku terjaga, irama itu masih juga terdengar. Itu suara ayahku dari ruang tamu.

Aku melihatnya di depan jendela. Tirai lebar tersibak, tergantung di antara dua bingkai jendela. Seberkas cahaya mungil di sudut ruangan berpendar samar, lampu satu-satunya kami biarkan menyala di ruangan itu. Benda itu menyebabkan bayangan temaram di sepanjang lantai dan menyisakan kilatan kemerah-merahan di wajah ayahku.

Dai berdiri memandang ke luar jendela, perlahan-lahan menyenandungkan irama itu. Cambangnya terserak tak rapi di sepanjang pipinya. Ruangan itu cukup gelap di bawah penerangan cahaya suram. Aku berdiri di belakangnya dan melihat bayangan wajahnya yang terpantul di jendela. Aku menatap pantulan kilatan matanya dan melihat bibirnya bergerak perlahan-lahan. Berdiri di sana, ia bagaikan sedang menjelajahi malam, mencoba merengkuh dan menutupi dengan irama itu.

Ibuku akhirnya pulang dari rumah sakit. Ada semacam hubungan khusus antara ibuku dan adik lelakinya yang kematiannya nyaris menghancurkan ibuku.

Ibuku memang bertubuh kurus; tapi pulang dari rumah sakit nyaris dai hanya tinggal belulang saja. Pada mulanya aku hampir tak mengenalinya. Kukira ada sebuah kekeliruan sehingga mereka menembalikan orang yang salah.

Selama beberapa hari, ibuku hanya berdiam dari di ranjang. Lalu pada suatu pagi dai keluar dan berjalan-jalan di sekitar halaman rumah tanpa mengenakan kerudung. Matanya yang bulat tamapk cekung, rambutnya berantakan. Dia tak pernah berbicara pada siapapun, sampai akhirnya pada suatu siang aku mendengar sebuah suara di ruang tamu. Ternyata ibuku sedang bicara sendirian.

“Kenapa kau pergi” katanya. “Kenapa kau harus pergi?”
Aku merasa beku saat mendengarnya.
Malam itu aku berkata pada ayahku saat dia menemaniku ke tempat tidur.
“Apakah ibu akan segera meningal dunia?”
Dia menghela napas panjang. “Tidak, Alif. Tidak. Ibumu tak akan segera meninggal dunia.”
“Apakah ibu sakit parah?”
“Ya.”
“Apakah ibu akan segera sembuh?”
“Ya. Insya Allah.”
“Aku ingin membuat gambar yang indah untuknya.”
Menggambar adalah satu-satunya hobiku saat itu. Ayah mendekapku erat-erat pada tubuhnya. Aku merasakan jenggotnya di wajahku.
“Sekarang tidurlah, Alif. Ayo, ucapkan doa mau tidur.”

Ibuku jadi mudah menangis. Mudah lelah. Dia tak peduli pada keadaan rumah, pada makanan, pada semua hal yang mestinya dilakukan oleh seseorang untuk terus bertahan hidup.

Seseorang perempuan tua datang ke rumah kami setiap hari untuk membersihkan rumah dan memasak. Aku memanggilnya Mbok Kerto. Dia adalah seseorang janda dengan anak-anak yang sudah menikah, bertubuh pendek, gemuk dan berwatak tegas. Dia hanya bisa berbicara dalam bahasa Jawa. Ibuku menghindarinya. Ibuku menghindari karip dan kerabat. Ibuku juga menghindariku dan ayahku. Dia tampak ngeri dengan kehadiran orang lain.

Suatu hari, saat duduk sendirian di ruang tamu, dia menyenandungkan sebuah irama. Ibuku menirukan subuah suara lembut. Paman Jundi menyebutnya nasyid.
“Kenapa ibu bernyanyi seperti itu?” tanyaku pada ayah pada malam harinya.
“Seperti apa?”
“Seperti suara Paman Jundi.”

Ayahku terpaku sejenak. Tangannya gemetar. “Ibumu sedang teringat pada adiknya. Semoga pamanmu beristirahat dengan tenang.”
“Ayah, apakah kau ingat pada Paman Jundi?”
“Ya.”
“Tapi kau tak bersenandung seperti itu, Ayah”
Dia menoleh sejenak, lalu berkata, “Sudah waktunya tidur, Alif. Ayo, bacalah doa mau tidur.”

Pada suatu siang, sekitar seminggu setelah pulangnya dari rumah sakit, aku melihat ibuku sedang sendirian di ruang tamu. Aku berkata padanya, “Ibu, apakah ibu sudah sembuh?”
Dia menatapku sejenak dengan pandangan kosong. Lalu tiba-tiba aku melihat secercah cahaya di matanya.
“Alif?”
“Ya, Bu?”
“Alif, apakah kau menggambar hal-hal yang indah? Apakah kau menggambar hal-hal yang manis dan indah?”
Aku tak pernah menggambar hal-hal yang indah. Aku lebih suka menggambar bola-bola bergulung dan berpusar, berwarna hijau dan merah dan kuning. Aku tak menjawab pertanyaan ibuku.
“Alif, apakah kau menggambar burung-burung dan bunga-bunga dan benda-benda yang indah?”
“Aku bisa mengambar hal-hal yang indah buatmu, Ibu.”
“Kau mestinya menggambar hal-hal yang indah, Alif.”
“Apakah aku mesti menggambar seekor burung yang lucu untukmu, Ibu?”
“Kau mesti membuat dunia ini tampak indah, Alif. Buatlah dunia ini terlihat manis dan indah. Betapa menyenangkannya tinggal di sebuah dunia yang indah.”
“Aku akan menggambar untukmu bunga-bunga yang indah dan burung-burung, Ibu. Aku akan menggambarnya untukmu sekarang juga.”

Tapi, tiba-tiba dai berkata tajam, “Lupakanlah.” Dia menatap keluar jendela. “Apa bedanya? Katakan padaku, apakah bedanya kini?”
Dan pandangan hampa kembali terlihat di matanya.
Dia tak pernah lagi datang ke kamarku. Dia lebih suka berbaring di ranjangnya, tidur atau menatap ke arahnya langit-langit, atau duduk di atas sofa di ruang tamu, memandang keluar jendela, ke arah jalan raya.

Dua minggu setelah ibuku kembali dari rumah sakit, aku datang ke kamar tidur orang tuaku di pagi hari. Ayahku telah berangkat kerja dan kulihat ibuku berada di atas ranjang. Dia berbaring di bawah selimut berwarna coklat. Wajahnya pucat. Tangannya yang kurus tersembul dari balik lengan gaun tidurnya. Dia tampak seperti orang mati saat aku masuk, tapi kemudian kelopak matanya terbuka dan dia mendongakkan kepalanya dari atas bantal, menatap ke arahku. Ibuku mencoba berbicara, lalu berbaring kembali di atas bantal. Sepasang matanya yang terpejam tampak seperti tombol kelabu dalam relung gelap berwarna biru.

Aku berdiri di sana cukup lama. Dia tampak sulit bernapas. Ada semacam aroma aneh tercium di udara.

Aku datang untuk menunjukkan padanya sebuah gambar yang baru selesai kubuat tadi pagi itu. Gambar dua ekor burung. Yang satu berada dalam sarangnya; yang lainnya terbang berkitar didekatnya, sayapnya terpentang lebar dan bergoyang-goyang. Sarang itu berwarna kuning pucat, sementara burung-burung itu berwarna jingga dan biru tua. Ada dedaunan yang hijau dan bunga-bunga berwarna merah bertebaran di mana-mana. juga ada langit berawarna biru pucat dan awan putih dan burung-burung mungil di kejauhan. Burung dalam sarang memiliki sepasang mata hitam yang bulat dan lebar.

Aku berdiri di samping ranjang dan menatap ibuku yang bernapas perlahan-lahan.
“Ibi,” kataku.
Matanya bergerak-gerak lembut, tapi tetap terpejam.
“Ibu,” kataku lagi.
Tangannya bergerak perlahan dan dia menoleh padaku. Dia membuka matanya.

Aku memegang gambar itu. Dia menatapnya dengan pandangan hampa.
“Ini gambar burung-burung dan bunga, Ibu.”
Dai mengerjapkan matanya.
“Aku telah membuat dunia ini tampak indah, Ibu.”
Ibuku memelingkan kepala dan memejamkan matanya.
“Ibu, apakah kau sudah sembuh?”
Dia diam tak bergerak.
“Aku sudah membuat dunia ini tampak indah, Ibu.”
Dia masih tak bergerak.
“Aku akan membuat lebih banyak burung dan bunga untukmu, Ibu.”
Di belakangku seseorang telah masuk dengan cepat ke dalam kamar. Aku merasakan sebuah tangan di atas bahuku.
“Apa yang kau lakukan ?” Mbok Kerto berbisik galak dalam bahasa Jawa.
“Aku membuat gambar untuk ibuku. Aku ingin membuat ibuku sembuh.”
“Pergilah.” Wajahnya yang gemuk itu gemetar. Dia tampak ketakutan kalau-kalau ibuku terbangun.
“Ibuku menyuruhku membuat gambar.”
“Pergilah.” Dia memaksaku berputar. Aku merasakan tangannya mendorongku ke luar kamar. “Anak macam apa yang tega mengganggu ibunya yang sedang sakit? Seorang anak yang baik tak melakukan hal-hal semacam ini.” Dia membawaku ke kamarku.

Aku duduk di ranjang dan menatap gambar itu. Tiba-tiba saja aku merasa takut dan tubuhku gemetar, aku belum pernah merasa seperti itu sebelumnya. Aku beringsut ke arah meja kecil di dekat ranjang. Perlahan-lahan tanganku meraih pensil.

Lama setelahnya Mbok Kerto berseru memenggillku untuk makan siang. Aku tiba-tiba tersadar di depan sebuah gambar yang penuh dengan bola-bola kusut berwarna merah dan hitam. Dalam gambar itu, aku melihat sepasang mata kelabu dan burung-burung yang mati.

_________________
Anton Kurnia, penulis prosa dan penerjemah karya sastra. Tinggal di Bandung.
Dijumput dari: http://hudan.ueuo.com/?p=4