Ibu, Kematian, dan Aku

Maria D. Andriana
http://www.sinarharapan.co.id/

Ia terbaring di atas kasur yang mengeras dan lembap oleh keringatnya. Matanya hitam dan cekung. Hanya mata hitam itu yang membuat wajahnya tampak hidup, sementara seluruh tubuhnya kurus dengan kulit kering yang seakan hampir terkelupas. Ia tampak renta dan tak berdaya. Ibuku, perempuan yang seharusnya kusayangi dan kuratapi penderitaannya.

Melihat tubuhnya yang lunglai, bibir hitam dan keriput yang tidak lagi mampu menerjemahkan isi hati dalam bentuk kalimat, seharusnya membuatku prihatin atau menangis. Continue reading “Ibu, Kematian, dan Aku”

Mimpi Pak Tumpul

M.D. Atmaja

Sehabis subuh berlalu, Pak Tumpul bangun tidur dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. Nafasnya pun terenggah-engah. Keringat sebesar kedelai menggantung di mukanya. Bintik-bintik seperti jerawat yang juga membasahi keningnya yang botak. Pak Tumpul mengelus kucir belakang yang terasa gatal. Dia masih duduk di tempat tidurnya ketika mendapati istrinya telah selesai mandi. Continue reading “Mimpi Pak Tumpul”

Bukan Puncak Huangshan

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu. Continue reading “Bukan Puncak Huangshan”

Rokok

Salman Rusydie Anwar

Siang itu, aku terkapar kepanasan di beranda rumah. Kurangnya pepohonan di sekitar halaman membuat suasana rumahku tetap terasa gerah meski saat itu aku bertelanjang dada. Belum lagi posisi rumah yang berada tepat di pinggir jalan besar yang setiap hari tak pernah sepi dari bisingnya suara kendaraan. Rasanya begitu muak bertahan lama tinggal di rumah itu. Tapi untuk pindah ke daerah lain yang lebih sejuk juga tak mungkin. Harga tanah sekarang ini mahal sekali dan hal itu jelas tak akan terbeli oleh penghasilanku yang cuma sebagai penjual asongan rokok, yang berkeliling di dalam pasar dan terminal angkot. Continue reading “Rokok”

Perjanjian Keramat

Sabrank Suparno *

Kata ibu, usia nenek sekitar 102 tahun. Tubuh ringkih itu sisa masa kolonial. Lima belas tahun silam, Nenek masih berjalan tegak nyambangi sawah. Aku ingat. Waktu kecilku sering diajak ke pekarangan di pojok desa. Aku bermain lumpur, dan tubuh wanita itu gigih mencangkul, menanam pohon kelapa. Namanya orang tua, ada saja tabiatnya. Apa sempat nenek memetik nanti? Sedang usianya di ambang senja. Mungkin nenek maniru nabi Muhammad, yang bersemboyan?aku tetap akan menanam korma, meski esok hari kiamat tiba?. Continue reading “Perjanjian Keramat”

Bahasa ยป