Maria D. Andriana
http://www.sinarharapan.co.id/
Ia terbaring di atas kasur yang mengeras dan lembap oleh keringatnya. Matanya hitam dan cekung. Hanya mata hitam itu yang membuat wajahnya tampak hidup, sementara seluruh tubuhnya kurus dengan kulit kering yang seakan hampir terkelupas. Ia tampak renta dan tak berdaya. Ibuku, perempuan yang seharusnya kusayangi dan kuratapi penderitaannya.
Melihat tubuhnya yang lunglai, bibir hitam dan keriput yang tidak lagi mampu menerjemahkan isi hati dalam bentuk kalimat, seharusnya membuatku prihatin atau menangis. Continue reading “Ibu, Kematian, dan Aku”
