PENGORBANAN CINTA

Zahrotun Nafila
http://media-lamongan.blogspot.com/

Suasana kampus sangat ramai, karena besok hari Minggu. Sekampus akan mengadakan liburan ke Malang. Hati Mawar saat itu sangat senang karena dia ingin menyegarkan pikirannya dengan berlibur. Sepulangnya dari kampus, Mawar menceritakan kepada orang tuanya, kalau dia ingin mengikuti liburan ke Malang. Orang tuanya mengizinkan kalau sahabatnya Elis juga ikut. Continue reading “PENGORBANAN CINTA”

CAF? SOCRATES*

Abonk El ka?bah
http://media-lamongan.blogspot.com/

?Huff?akhirnya? bisik hatiku yang merasa bebas ketika dosen meninggalkan ruangan. Serasa aku kembali ke taman Eden kini, padang rumput nan hijau bertabur merah bunga mawar yang mulai merekah, menyambutku bak pahlawan yang pulang dari medan tempur Jahanam. Continue reading “CAF? SOCRATES*”

Istri Pilihan

Rilda A. Oe. Taneko*
http://www.lampungpost.com/

KABUT pagi masih menyelimuti Maastricht ketika ia pertama kali datang. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Tubuh kecil kurus dengan kulit yang kecokelatan dan wajahnya itu–ah wajah itu, mirip sekali dengan wajah perempuan Indonesia di lukisan milik Papa. Selagi kecil dulu, ada juga sesekali kulihat Papa termenung-menung di depan lukisan itu. Aku masih ingat benar, mata Papa sering kali tampak murung dan menerawang jauh. Continue reading “Istri Pilihan”

Rindu Yang Tak Terjamah

Yushifull Ilmy
http://media-lamongan.blogspot.com/

Brakk?! Dengan kesal kubanting tasku ke lantai. Entah mengapa hari ini nasib buruk selalu menimpaku. Nazril Ilham yang biasa di panggil Aril, siswa kelas 3B yang terkenal sombong itu, membuatku kesetanan. Tadi di kantin ketika aku membawa segelas es teh hendak menuju tempat duduk dia menabrakku hingga gelasnya jatuh. Itu saja tidak cukup. Ketika aku pulang sekolah dia bersama motor gedenya melaju dengan kencang melewati kubangan air di tepi jalan yang tepat di sampingku dan?praatt??muncrat air itu ke bajuku. Continue reading “Rindu Yang Tak Terjamah”

Bidadari dari Desa

Aba Mardjani
http://www.kompas.com/

BAGI Ratri, langit di Cibaresah selama sebulan ini selalu saja biru. Bagi gadis kecil itu, langit di Cibaresah adalah padang angkasa luas tempat karnaval awan-awan yang tak pernah jemu dinikmatinya setiap hari. Gumpalan kapas yang putihnya amat kemilau itu seakan tak pernah bosan memamerkan segala keindahannya yang mengagumkan. Langit Cibaresah seakan tak pernah memperlihatkan kepekatannya. Kalaupun langit itu menangis, air matanya selalu luruh di malam hari saat seluruh warga dibuai lelap. Continue reading “Bidadari dari Desa”

Bahasa ยป