Beringin Cinta

Joni Ariadinata
Batam Pos 09/07/2003

Langit menepi. Malam pasti basah. Suara sirine melengking dalam jauh: lamat, dan menyakitkan. Irene memindahkan chanel televisi, berisik, berpindah-pindah; lalu ia matikan. Klik. Sepi. Beranjak ke kamar, melihat kaca: tak ada senyum. Bunga kacapiring di luar jendela bergoyang-goyang. Malam pasti basah. Malam pasti…“Irene. Irene. Irene…” Continue reading “Beringin Cinta”

Telaga Lara atau Hikayat Kesetiaan

Teguh Winarsho A.S.
lampungpost.com

SETIAP malam perempuan itu menangis di tengah lapangan. Ia menangis ketika orang-orang sudah lelap tidur. Ketika kampung telah menjadi begitu senyap seperti liang kubur. Suara tangis perempuan itu terdengar keras, melengking, seperti leher angsa digorok. Seperti denyit roda kereta api saat berhenti mendadak. Pekak, ngilu, menyayat, menggetarkan tubuh, membuat hatimu teriris-iris. Perempuan itu terus menangis hingga subuh datang bersama kabut. Bersama embun dan daun gugur. Lalu, sebelum matahari benar-benar rekah perempuan itu tiba-tiba lenyap. Continue reading “Telaga Lara atau Hikayat Kesetiaan”

Venus

AS. Sumbawi

Hujan jatuh di luar jendela. Angin dingin menyelusup lewat sela-sela pintu dan jendela kamar. Waktu menunjukkan pukul 22.21 di jam dinding.

Maria masuk sembari mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk merah. Ia baru saja mandi setelah hujan mengguyur tubuhnya dalam perjalanan pulang dari rapat sebuah LSM tadi. Seperti biasa, ia langsung mandi. Kalau tidak, tubuhnya akan terserang demam. Dan ia tidak mengizinkan hal itu terjadi. Continue reading “Venus”

Temui Aku Hari Jumat, di Belakang Kelenteng Tua

Marhalim Zaini
Riau Pos, 27 Maret 2005

Saat itu, Hitler sudah mati. Bunuh diri. Beberapa menit setelah Eva Braun yang molek dinikahinya dalam ruang pengap udara. Goerge Orwell tak kisah sangat, kelelahan pasca perang, di negeri penuh paradoks, tak membuat ia lemah semangat untuk menemuinya, Siti Layla. Perempuan Melayu berdarah biru, keturunan raja-raja. Goerge menyukai Siti, tersebab Siti menyukai Einstein. Terutama saat bom atomnya menumbangkan keangkuhan totalitarianisme. Terlebih lagi, saat Siti mulai melayangkan responnya atas sejumlah fragmen novel Goerge terbaru, Nineteen Eighty-four (1984), atau terhadap novel sebelumnya berjudul Animal Farm. Continue reading “Temui Aku Hari Jumat, di Belakang Kelenteng Tua”

Bahasa »