“Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil

Berthy B Rahawarin
kompasiana.com

Apakah Chairil Anwar dan WS Rendra dapat dipandang sebagai pria jenis “play-boy” pada masanya? Dalam rangka mengenang 40 hari meninggalnya sastrawan Wahyu Surendra Rendra atau Mas Willy, figur tokoh sastrawan muda nan ajaib Chairil Anwar disanding bersama, tidak untuk membahas dan membandingkan karakteristik syair dan sajak mereka, tapi malahan sekedar menghantar masyarakat penulis dan pembaca Public Blog Kompasiana untuk memotivasi dan mengilhamkan masyarakat kita untuk tetap perduli pada kehidupan meditatif-refleksif-heroik lewat sajak-sajak penuh makna yang pernah kita miliki di Nusantara. Continue reading ““Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil”

Kenangan Chairil Anwar dalam HUT Jakarta

Susianna
suarakarya-online.com

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin. Kalimat ini merupakan bait tersendiri dari puisi Yang Terempas dan Yang Putus (1949), ditulis Chairil Anwar menjelang akhir hayatnya. Sesuai pesan puisinya, Charil yang lahir 26 Juli 1922 di Medan, dan meninggal 28 April 1949 di CBZ( RSCM) Jakarta di makamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat. Continue reading “Kenangan Chairil Anwar dalam HUT Jakarta”

Bahasa ยป