Kenangan Chairil Anwar dalam HUT Jakarta

Susianna
suarakarya-online.com

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin. Kalimat ini merupakan bait tersendiri dari puisi Yang Terempas dan Yang Putus (1949), ditulis Chairil Anwar menjelang akhir hayatnya. Sesuai pesan puisinya, Charil yang lahir 26 Juli 1922 di Medan, dan meninggal 28 April 1949 di CBZ( RSCM) Jakarta di makamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat.

Beberapa foto dan kulit depan buku puisi Chairil Anwar digelar sebagai pendukung acara Chairil dan Kota, 26 – 28 Juni 2008 di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) Acara dalam kaitan HUT ke-481 Kota Jakarta dan peringatan 69 tahun kepergian Chairil Anwar ini kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dengan Soetrisno Bachir Foundation dan Freedom Institute.

Ada foto Ibunda Chairil – Saleha, Chairil dan istrinya Hapsah (1946), foto Chairil dengan gaya merokok, beberapa foto makam dan upacara pemakaman yang dihadiri sejumlah pelayat. Salah satu foto yang ada sosok Usmar Ismail di bawahnya tertulis : Komentar Usmar Ismail “Ia seorang anak kurang ajar”. Ada foto makam ketika tahun 1953 dikeliling ilalang, dan foto makam (2008) yang terawat. Pada nisan tertulis (masih dalam ejaan lama) : Di sini berbaring Penyair Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45, Wafat di Djakarta 28 April 1949.

Selama tiga hari, acara diisi dengan diskusi dan pembacaan puisi. Dipandu Nirwan Ahmad Arsuka, diskusi hari pertama tampil pembicara Goenawan Mohamad mengusung topik Dari Mooie Indie ke Pasar Baru. Sesuai tema acara, Goenawan lebih banyak berbicara tentang kota, antara lain mengutip sajak Aoh Kartahadimaja – Ke Desa, bait pertama

Orang Kota !?
Pernahkah tuan pergi ke desa
menghirup bumi
Baru duixcanggku menyegar rasa?

Demikikian juga bait puisi Mohamad Yamin, A Hasymi, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dari sebelas lembar folio makalah, hanya menyinggung sedikit Chairil Anwar pada bagian kalimat terakhir : Sajak Chairil Anwar tentang Jakarta – yang baginya bukan tempat asing, bukan raksasa yang mengerkah tapi momen-momen yang intens dan beragam.

Arief Bagus Prasetyo mengusung tema Memindai (melihat dengan cermat dan lama) Jakarta Bersama Chairil, dan Marco Kusumawijaya mengangkat topik Chairil Anwar : Subyek di Dalam Landasan Moderninasi Kota.

Hari kedua Robertus Robet mengusung tema Si Binatang Jalang Bernama Cogito dan Ihsan Ali Fauzi berbicara Di mana Chairil Di Tengah – tengah Kita Hari Ini?

Rizal Mallarangeng bercerita tentang kegagumannya pada bahasa dalam sajak Chairil Anwar yang begitu puitis mempergunakan bahasa Indonesia yang baik pada zamannya.

Diakui, sejak mahasiswa hingga sekarang ia masih memajang foto Chairil Anwar dalam pose merokok dengan sisiran rambut yang berombak. Di bawah foto itu ditulis sebuah kalimat puisi Chairil : Sekali berarti sudah itu mati.

Keroncong Tugu

Kekaguman bahasa dalam sajak – sajak Chairil Anwar juga menggugah Rektor Universitas Paramadina Anies Rasyid Baswedan, Ph.D..Ia ambil bagian dalam pembacaan puisi – puisi Chairil Anwar, di Studio Kecil TIM, Sabtu (28/6) malam.

Anies yang waktu SD senang berdeklamasi menilai di mana pada masa bahasa Indonesia belum menjadi bahasa semua orang, tetapi Charil Anwar sudah bisa mengolah kata-kata begitu luar biasa dan menjadi inspirasi. Juga disaat bahasa Indonesia dianggap orang sebagai bahasa Melayu. Hal ini menjadi cikal bakal pemahaman kita tentang bahasa Indonesia . Malam itu ia membacakan dua buah puisi Chairil Anwar puisi yaitu Sebuah Kamar, dan Taman .

Pembaca puisi malam itu diawali Putu Wijaya. Sastrawan kondang itu membacakan 3 puisi Kepada Kawan, Siap Sedia dan Cerita Buat Dien Tamaela. Sebagai aktor kondang, Putu membaca dengan gaya teaterikal. Kadang – kadang duduk di bangku panjang, tetapi lebih banyak berdiri di bawah sinar lampu pijar. Dengan suara serak-serak parau Putu berakting menjiwai isi puisi. Ketika membacakan puisi Cerita Buat Dien Tamaela, kaki kanannya menghentak keras berirama sementara tangan kanannya diayunkan seperti orang mendayung.

Berbeda penyair kondang WS Rendra sebagai pembaca terakhir yang malam itu sedikit kurang acting dan lebih tenang. Namun penampilannya tetap anggun menjiwai puisi yang dibaca yaitu Rumahku, Catetan Tahun 1946, dan Cintaku Jauh Di Pulau.

Sebelum Rendra, tampil Iman Soleh yang dengan bersemangat meneriakkan puisi Lagu Siul dan Kerawang Bekasi. Berbeda Andi Mallarangeng yang mencoba menghayati puisi yang dibacanya dengan gaya seorang deklamator.

Dari enam pembaca yang dihadirkan, satu-satunya wanita Niniek L Karim yang dengan lembut dan tenang, penuh penghayatan melantunkan tiga buah puisi yaitu Aku Berkisar Antara Mereka, Yang Terampas dan Yang Putus, dan Derai – derai Cemara.

Pembacaan puisi cukup singkat diawali dan diakhiri dengan hiburan musik Keroncong Tugu. Antara lain melantunkan lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki dan sejumlah lagu keroncong untuk menghibur penonton yang tidak beranjak dari tempat duduk hingga acara bubar. Sebagian besar yang hadir anak-anak muda.Bahkan usai acara, mereka masih duduk-duduk di lantai lobi, bercanda sambil menikmati makanan ringan yang masih banyak tersisa.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *