KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)

Djoko Saryono *

Empat fungsi apresiasi sastra yang sudah diulas sebelumnya tidak selalu terpisah. Ada kalanya malah berpadu. Maksudnya, dalam suatu proses apresiasi sastra bisa teremban atau tertunaikan beberapa fungsi sekaligus. Hal ini bergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresiasi sastra, dan karya sastra. Jika proses apresiasi berlangsung secara afektif-intelektual dan pengapresiasi sastra bertipe afektif-intelektual serta karya sastra berbobot atau bermutu, maka berbagai fungsi bisa tertunaikan sekaligus. Sebagai ilustrasi perhatikan puisi berikut ini. Continue reading “KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)”

FUNGSI APRESIASI SASTRA (6)

Djoko Saryono *

Sebelumnya sudah dikemukakan bahwa apresiasi sastra bertujuan menyelenggarakan perjamuan dan percakapan imajinatif-literer agar terhidang atau tersuguh (i) pengalaman, (ii) pengetahuan, (iii) kesadaran, dan (iv) hiburan. Agar tujuan ini tercapai, apresiasi sastra mengemban fungsi tertentu. Di sini fungsi merupakan suatu jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra. Diselaraskan dengan tujuan yang akan dicapai, fungsi apresiasi sastra juga dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu (i) fungsi eksperensial, (ii) fungsi informasional, (iii) fungsi penyadaran (konsientisasi), dan (iv) fungsi rekreatif. Keempat fungsi ini diulas berikut ini. Continue reading “FUNGSI APRESIASI SASTRA (6)”

TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)

Djoko Saryono *

Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia-pengapresiasi dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan aktif antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya perjamuan dan percakapan imajinatif literer antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Oleh karena itu, apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumapaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan literer. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia-percakapan. Continue reading “TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)”

STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)

Djoko Saryono *

Meskipun dapat dilakukan secara komunal artau kolektif, apresiasi sastra bekerja secara subjektif, individual, internalistik, momentan, tanpa harus perlu dipandu oleh teori tertentu, dan tak evaluatif. Hal ini berarti bahwa kehadiran apresiasi sastra di tengah-tengah dunia (penghadapan) sastra bukan sebagai ilmu. Dikatakan demikian karena ilmu justru menuntut objektivitas, kolektivitas (sebab mesti bisa diuji oleh orang lain!), rasionalitas, dipergunakannya teori tertentu, dan evaluatif atau eksplanatif. Padahal semua ini tak bisa dipenuhi oleh apresiasi sastra. Continue reading “STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)”

WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)

Djoko Saryono *

Wilayah garap (jangkauan) apresiasi sastra, kritik sastra, dan penelitian sastra sering rumpang dan berbenturan. Sering ditemui tulisan-tulisan yang disebut apresiasi sastra ternyata menggarap wilayah kritik sastra. Demikian juga sering kita lihat tulisan-tulisan yang disebut kritik sastra ternyata menggarap wilayah apresiasi sastra. Penelitian sastra pun sering menggarap wilayah kritik sastra dan apresiasi sastra. Bahkan kadang-kadang kita kesulitan membedakan apakah suatu tulisan itu penelitian sastra, kritik sastra, apresiasi sastra atau esai sastra. Continue reading “WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)”

Bahasa ยป