EMPUKU, PEREMPUANKU

M.D. Atmaja

Dituliskan untuk Soviana D. Saputri Atmaja dan Almarhum Eka Kartikakunang Atmaja (Eka Kartikawanti, 28 April 1985 – 27 Mei 2006)

Pengantar

Persembahan di atas, mungkin terkesan membenjol dalam kejanggalan yang tidak logis. Saya secara pribadi menyarankan untuk tidak perlu dihiraukan. Akantetapi, kalau saya boleh menyarankan kembali, sebelum membaca tulisan ini sampai tuntas, saya mengajak hadirin pembaca untuk sejenak melepaskan ego sebagai lelaki dan (atau) ego sebagai pribadi perempuan. Continue reading “EMPUKU, PEREMPUANKU”

Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru

Asarpin*
Lampung Post, 6 April 2008

ADA dua cerpen S.W. Teofani yang pernah terbit di Lampung Post yang menggoda imaji saya saat membacanya: Gapura Pulau Panggung (12-2-2006) dan Gapura Doa (16-3-2008). S.W. Teofani belum begitu dikenal sebagai penulis cerpen, bahkan namanya sangat samar, tapi dua cerpennya ini hemat saya layak dipertimbangkan. Teofani mampu menghadirkan kersik kata-kata tanpa beban dalam berbahasa. Alunan rimanya terasa hening seperti peri kesepian-sejenis vibrasi yang hanya memberi perhentian sejenak untuk kemudian berjalan mengalir pelan dan bening menuju mata air sumber kecemerlangan. Continue reading “Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru”

AKSIDENSI KATA-KATA DAN LAHIRNYA SEBUAH KARYA

Kisahan kecil tentang Proses Kreatif cerpen “Ephyra”
Dwicipta
http://pawonsastra.blogspot.com/

Awalnya saya mendambakan hujan lebat mengguyur kota yang telah kering kerontang setelah didera kemarau lebih lama dari biasanya. Air tercurah dari langit, membasahi dedaunan, atap rumah, permukaan aspal; menggenangi selokan, kanal-kanal air dan riol tak terurus di hampir penjuru kota; memenuhi rongga dalam dasar hatiku dan meluap ke sekujur tubuh kesadaranku. Hari berkabut, menipu pandangan. Guruh mengaduh sampai jauh, pekikan lirih menyusup di kalbu. Lalu angin datang menderu, dan selarik sajak Goenawan Mohammad menghampiri ujung lidah. Di telingaku kudengar suara asing itu. Continue reading “AKSIDENSI KATA-KATA DAN LAHIRNYA SEBUAH KARYA”

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun. Continue reading “Meledek Penyair, Menghormati Puisi”

“Dari Dolly Surabaya, Madura, hingga Air Mata”:

Hibriditas Dunia Sosial dan Individual dalam Antologi Puisi Salam Mempelai Karya Tengsoe Tjahjono

Yusri Fajar
__Pelangi Sastra Malang

Sebelum saya mulai ‘membaca’ antologi puisi Tengsoe Tjahjono Salam Mempelai(2010), saya ingin bercerita sedikit tentang perkenalan saya dengan penyair yang juga dosen Universitas Negeri Surabaya ini. Saya pertama kali bertemu Tengsoe pada acara bedah novellet Bukan Pinang di Belah Dua karya Ratna Indraswari Ibrahim di Jalan Diponegoro Malang sekitar tujuh tahun yang lalu. Waktu itu Tengsoe sebagai pembedah. Continue reading ““Dari Dolly Surabaya, Madura, hingga Air Mata”:”

Bahasa »