MENGGUGAT PENDIDIKAN GAYA “BANK”

Janual Aidi

…..”masyarakat saat ini sedang mengalami penderitaan
karena salah ajar (dysteachic communit) ”…..
(Thomas Armstrong, 2002)

Freire mengurai secara gamblang problem pengetahuan yang dipolakan dari sistem pendidikan yang “menindas” dan kontra-pembebasan. Dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menegaskan bahwa pola pendidikan yang selama ini terjadi bahwa hubungan antara guru dan murid dengan menggunakan model “watak bercerita” (narrative): seorang subyek yang bercerita (guru) dan obyek-obyek yang patuh dan mendengarkan (murid-murid). Continue reading “MENGGUGAT PENDIDIKAN GAYA “BANK””

Mengeja Orgasmaya, Sebuah Tadarus Dari Orang Tak Saleh

Abu Salman
http://dunia-awie.blogspot.com/

Sebagai seorang penyuka dan penikmat puisi yang tak saleh alias seorang awam puisi. Yang tentu tak bisa kusuk dalam tadarus dan menafsir kitab puisi, maka bagi saya menikmati karya puisi itu seperti menempuh suatu perjalanan. Perjalanan dari kota ke kota. Perjalanan menelusur dari kata ke kata. Dari frasa ke frasa. Kadang seperti melaju di jalanan yang lempeng-lempeng saja tanpa kesan dan tanpa hambatan, terkadang dapat nemu berbagai menu rasa dari tangkapan indra yang terangsang oleh berbagai pemandangan dan peristiwa. Continue reading “Mengeja Orgasmaya, Sebuah Tadarus Dari Orang Tak Saleh”

Indentitas Keindonesiaan dalam Sastra Indonesia

Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

/1/
Di dalam khazanah sastra Indonesia modern kita mengenal suatu persoalan kemajemukan budaya bangsa sebagai akibat dari keragaman etnis. Menghadapi persoalan kemajemukan budaya bangsa ini kita harus berpandangan luas, tidak sempit, dan tidak primodial. Kita anggap bahwa keragaman etnis dapat menghadirkan temu budaya dan temu etnis yang terwadahi dalam sastra Indonesia modern. Continue reading “Indentitas Keindonesiaan dalam Sastra Indonesia”

Tour De Borneo (2) Sebuah Esai Perjalanan Budaya

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Biasanya ini hati agak kuatir kalau orang yang belum dikenal kemampuannya menjadi sopir kendaraan yang saya tumpangi. Mobil meluncur ke kota intan Martapura. Kami menuju tepian sungai, memperhatikan penduduk membuat lubang berbentuk sumur dan memompa air ke atas memakai mesin mobil tua. Dinding sumur ditahan dengan kayu-kayu yang kuat. Begitu pula dengan tanggal untuk turun dan naik. Tapi para pendulang tidak bisa kering. Pakaian dan tubuh basah kuyup berjam-jam, berhari-hari ketika mereka mendulang intan. Continue reading “Tour De Borneo (2) Sebuah Esai Perjalanan Budaya”

Bahasa »