Tor De Borneo (3-Habis) Sebuah Esai Perjalanan Budaya

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Teater monolog yang dibawakan oleh seorang gadis, sangat mempesona. Pembesar kesenian Departemen Pendidikan yang datangdari Jakarta menganjurkangadis itu agar segera pentas ke Jakarta. Dalam hubungan ini saya teringat suatu malam di gedungteater milik pabrik traktor John Deer di Iowa,AS. Dia mementaskan puisi-puisi Robert Frost. Yang menonton adalah sastrawan-sastrawan dari berbagai negara yang mengikuti program Internasional penulisan kreatif, pimpinan Prof Dr Paul Eagle. Continue reading “Tor De Borneo (3-Habis) Sebuah Esai Perjalanan Budaya”

Sastra Anak Bukan Anak Sastra

Hasta Indriyana *
suarakarya-online.com

Saya cukup terganggu oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang guru Sekolah Dasar ketika mengikuti workshop penulisan dalam sebuah acara haul sastra di Yogya (acara tersebut dibuka untuk umum), yang isi pertanyaannya kurang lebih menanyakan kiat-kiat menulis bagi anak. Poin pertanyaan yang mengganggu tersebut terutama mengenai apa yang harus ditulis oleh anak-anak seumuran SD, bagaimana cara pengajarannya, dan bagaimana implikasinya nanti. Continue reading “Sastra Anak Bukan Anak Sastra”

KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN

F. Rahardi *
Kompas, 23 Apr 2000

SEPENINGGAL HB Jassin, masyarakat sastra Indonesia merasakan adanya sebuah “kekosongan”. Sebenarnya kekosongan ini bahkan telah mulai disadari semenjak akhir tahun ‘70-an ketika sang “Paus” sastra kita mulai tidak aktif menulis kritik.

Memang tetap ada orang yang rajin mengulas karya sastra. Misalnya Korie Layun Rampan, Faruk, Umar Junus, Sapardi Djoko Damono, untuk menyebut beberapa nama. Tetapi, dibandingkan HB Jassin sosok mereka masih belum “dianggap” oleh khalayak sastra Indonesia. Continue reading “KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN”

Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal

Iwan Komindo *)
http://pt-br.facebook.com/topic.php?uid=224410308710&topic=14037

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan kami yang neneruskan/Kerja agung jauh hidupmu/Kami tancapkan kata mulia/Hidup penuh harapan/Suluh dinyalakan dalam malammu/Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.

Syair tersebut terukir di makam Ali Archam di Digul Atas, tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia . Lokasinya terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian Selatan. Continue reading “Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal”

Bahasa »