Tor De Borneo (3-Habis) Sebuah Esai Perjalanan Budaya

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Teater monolog yang dibawakan oleh seorang gadis, sangat mempesona. Pembesar kesenian Departemen Pendidikan yang datangdari Jakarta menganjurkangadis itu agar segera pentas ke Jakarta. Dalam hubungan ini saya teringat suatu malam di gedungteater milik pabrik traktor John Deer di Iowa,AS. Dia mementaskan puisi-puisi Robert Frost. Yang menonton adalah sastrawan-sastrawan dari berbagai negara yang mengikuti program Internasional penulisan kreatif, pimpinan Prof Dr Paul Eagle. Sehabis nonton seorang sastrawan meminta supaya gadis itu mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Iowa. Kontan gadis itu mendapat beasiswa. Bisakan gadis Banjarmasin yang berbakat itu mendapat beasiswa di pulau yang penuh dengan tambang minyak, batubara dan intan berlian?

Mestinya Pertamina, tambang batubara dan intan memiliki gedung teater tersendiri. Pengusaha kaya hanya membawa bencana banjir dan api. Ada memang sebuah gudang bundar yang bagus di samping Taman Budaya Banjarmasin yang panggung teater tetapi konon gedung itu akan dipakai untuk kegiatan akherat.

Diskusi mengenai hidup dari teater memunculkan beberapa gagasan. Naturalisme Slamet Raharjo membuat dia bisa mendapat uang di dunia perfileman. Bagaimana dengan daerah? Jalan satu-satunya untuk bisa hidup dan mengembangkan teater adalah dengan adanya waktu senggang untuk mencipta dan berlatih. Kalau uang tak ada, waktu senggang untuk mencipta dikorbankan. Proses kreatif terlantar. Akan tetapi untunglah Indonesia ini memiliki tanah yang subur, laut yang kaya. Sebuah sanggar teater di daerah perlu memiliki lahan pertanian untuk hidup berkarya. Hal ini juga dibicarakan dalam temu teater tersebut.

Tak terduga ada seniman teater yang berlatar belakang sarjana pertanian di Kalimantan. Mereka mempunyai kebun dan pekarangan sayur mayur. Ubi dan singkong goreng tersedia di saat mengadakan latihan. Mereka kritis melihat halaman Taman Budaya Banjarmasin yang tertatasebagai taman yang semestinya.

Teater adalah salah satu media informasi. Memasuki abad informasi ini (milennium ke-3), teater pegang peranan penting. Ditopang oleh lahan pertanian dan lumbung makanan, kehidupan teater tak akan macet. Apalagi kalau ia berada di sebuah desa budaya atau desa transmigrasi modern dimana seniman dan sarjan bertani bersama petani desa, belajar dari petani dan petani belajar dari sarjana dan seniman.

Desa budaya itu perlu memiliki tiga media informasi yaitu media cetak yang menghasilkan buku-buku, buklet, brosur, majalah, tabloid dll yang berisi informasi mengenai flora dan fauna, floklore, arsitektur tradisional, anyaman, tenunan, ukiran, dani boga, adat istiadat dan sebagainya. Semanya perlu diterjamahkan ke bahasa asing agar dunia mengetahuinya mengenal supaya yang bertadang, berwisata dst. Media elektronik adalah produk teknologi tepat guna. Komputer, kamera video, pemancar radio termasuk murah. Media panggung memungkinkan penduduk desa dapat mengadakan misi kesenian ke luar negeri dan sebaliknya pihak luar negeri akan tertarik dandatang.

Gagasan desa budaya ini saya kemukakan di sela-sela kegiatan pementasan. Hampir tidak mungkin mengadakan sebuah sangar teater dengan dana dari pemerintah dan perusahaan besar di negeri ini. Boleh dikatakan kegiatan kesenian di Indonesia tidak memiliki pelindung dan pembina yang mau memberi uang kepada penggiat teater. Indonesia masih perlu waktu untuk tumbuhnya maecenas, patron. Teaterawan Indonesia di desa-desa hanya bisa hidup dari bumi subur dan laut kaya.

Di hari terakhir, penyair Tariganu dan saya diantar oleh ketua panitia menuju kota Kapuas di Kalimantan Tengah. Kami melalui jembatan Barito, sungai terpanjang di Indonesia dan berhenti menikmati serta mengagumisungai yang lebar itu yang airnya datang dari pipa kapiler hutan dihulu. Bayangkan kalau hutannya digunduli oleh pengusaha dan pemerintah yang myopic. Melihat bargas-bargas membawa batubara ke hilir pertanyaan timbul,berapa persenkan yang kembali ke Barito agar tepiannya di beton seperti sungai Mississipi? Apakah pengusaha hari ini sudah memikirkan pembetonan bibir sungai demi generasi yang akan datang?

Di kota Kapuas kami meninjau penginapan artistik di tepi sungai. Jika punya uang yang cukup tidak akan kuatir kelau telinganya dikejutkan oleh informasi mengenai biaya nginap Rp 500.000 semalam. Saya hanya bisa memperhatikan tangki-tangki pemurnian air, mengetok-ngetoknya dan bertanya dalam hati, apa bisa dipercaya airnya?

Dari Kapuas ke Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah, jalan terputus oleh banjir. Dengan demikian maka tarif penyeberangandengan rakit melonjak. Untuk sepeda motor Rp 25.000, 00 untuk mibl Rp 75.000,00 (siang), Rp 100.000,00 (malam).

Saya sangat berbahagia karena lengkaplah sudah perjalanan saya di seluruh Indonesia. Buku tentang perjalanan itu barangkali akan berjudul “Mati Ketawa Keliling Indonesia”.

Kembali ke Banjarmasin, di hari berikutnya kami meluncur ke kota satelit Banjar Baru, kota yang terletak di kawasan yang agak tinggi. Kota itu bersih, tenang, asri. Taman di depan kantor yang direncanakan menjadi kantor Gubernur Kalsel, biasa dipakai untuk pementasan kesenian. Gedung-gedung besar ada beberapa tetapi saya tak melihat gedung kesenian.

Di hari terakhir kami bersampan di kuala Barito. Kami menuju pasar terapung yang ternyata indah gambar dari kenyataan aslinya. Sampah-sampah kayu lapis bergelimangan. Di atas gelondongan yang membentuk rakit ada rumah, ada kakus dan kamar untuk mengganti pakaian. Saya melihat dengan mata kepala dan karena mata itu terletak di kapal maka kepala saya ngeng-ngeng. Amboi, ada orang berak di sana dan tiga meter dari orang itu ada orang mandi dan sikat gigi. Kenangan saya melayang ke muara sungai Mississipi di kota New Orleans. Berabad-abad lamanya tepian sungai itu dibeton sedikit demi sedikit sehingga kalau kita bertamasya ke sana sekarang ini seluruhnya sudah dibeton dan dengan demikian bebas erosi.

Bapak pemilik sampan bermotor yang kami sewa Rp 150.000,00 mengatakan bahwa per bulan ia memperoleh rata-rata Rp 1.500.000,00 untuk biaya hidup suami istri dan empat orang anak. Harga sebuah sampan dengan mesinya Rp 10. 000.000,00. Ia pakai mesin buatan Cina Rp 2.500. 000,00 yang bertahan hanya 2 tahun. Mesin buatan Jepang bisa bertahan sampai 5 tahun tetapi mahal. Ketika kami meluncur ke sebuah delta yang bernama Pulau Monyet, tampak sebuah kapal ukuran raksasa yang memuat kayu dan batubara dan … paha-paha perempuan pun diangkut ke atas lalu turun kembali setelah terjadidiplomasi instan. Kompleks pelacuran di Banjarmasin memang sudah dihancurkan tetapi menurut keterangan orang di sampan,di bundaran kota masih tampak para Mirah masa kini yang tak bergigi emas seperti dalam salah satu karya Pramudya Ananta Toer. Saya teringat pada bualan seorang pelaut Indonesia. Katanya di Hong Kong lebih dahsyat l agi. Para diplomat seks menyerbu dengan speedboat begitu tiang kapal mencuat di kaki langit. Mereka naik melalui tali ke kapal lau mendesing-desing. “Buy me, buy me laaa.” Balatentara seks Hong Kong yang cipit-cipit itu menaklukkan para pelaut – diantaranya orang Indonesia. Itulah manusia.***