Akrobat Kata-kata

F Rahardi *
Kompas, 27 Juli 2008

DALAM acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 Juli lalu, cerpenis Hamsad Rangkuti membuat pernyataan bahwa ”Pengarang muda cenderung berakrobat kata-kata”.

Dampak dari akrobat kata-kata ini—masih menurut Hamsad—akan membuat tema karya sastra (prosa) menjadi tersembunyi, bahkan hilang (Kompas, 15/7). Beberapa tahun lalu, Hamsad juga pernah membuat pernyataan yang kontroversial, bahwa sastra = kebohongan. Ketika itu saya mencoba meluruskannya, bahwa sastra yang lahir berdasarkan imajinasi, beda dengan kebohongan. Tulisan saya yang meluruskan Hamsad di Kompas ini kemudian dimuat dalam salah satu kumpulan cerpennya. Continue reading “Akrobat Kata-kata”

Sastra Tanpa Kredo

F. Rahardi *
Kompas, 3 Juni 1970

Sejak 20 tahun terakhir, sastra buku dan koran maju cukup pesat. Namun, kemajuan itu tampak hanya sekadar teknis, sekadar kulit. Bukan isi dan bukan esensi, alias sastra tanpa kredo.

Bait puisi Wiji Thukul yang sangat terkenal adalah, Hanya ada satu kata: Lawan! Itulah “Kredo Puisi” Wiji Thukul yang walau tak pernah ditulis seperti Kredo Puisinya Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tetap kuat dan punya makna. Sebab yang dia tulis juga dia lakukan dalam bentuk perbuatan. Selain menulis, Thukul juga aktif secara konkret melawan kekuasaan yang represif dan otoriter. Akibat perlawanan melalui kata dan perbuatan ini, Thukul raib sampai sekarang. Continue reading “Sastra Tanpa Kredo”

KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN

F. Rahardi *
Kompas, 23 Apr 2000

SEPENINGGAL HB Jassin, masyarakat sastra Indonesia merasakan adanya sebuah “kekosongan”. Sebenarnya kekosongan ini bahkan telah mulai disadari semenjak akhir tahun ‘70-an ketika sang “Paus” sastra kita mulai tidak aktif menulis kritik.

Memang tetap ada orang yang rajin mengulas karya sastra. Misalnya Korie Layun Rampan, Faruk, Umar Junus, Sapardi Djoko Damono, untuk menyebut beberapa nama. Tetapi, dibandingkan HB Jassin sosok mereka masih belum “dianggap” oleh khalayak sastra Indonesia. Continue reading “KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN”

Tonggak-tonggak Sastra Indonesia

F Rahardi
Kompas, 13 Feb 2000

BAGI masyarakat awam, tonggak-tonggak sastra Indonesia adalah “angkatan” Pujangga Baru, ’45, dan ’66, sebab itulah yang diajarkan di sekolah. Setelah Angkatan ’66, pernah ada yang ingin melansir Angkatan ’80. Kemudian ada pula yang sangat bernafsu memproklamirkan Angkatan 2000. Tetapi, kalangan sastra sendiri tidak terlalu memusingkan perihal tersebut. Mereka cenderung melihat tonggak sastra berdasarkan munculnya figur kuat. Continue reading “Tonggak-tonggak Sastra Indonesia”