Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal

F. Rahardi *
Majalah Horison, Jan 1984

Kesan utama yang segera timbul sehabis baca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Gramedia, Jakarta 1982) adalah adanya sebuah latar (setting) yang sangat bagus. Latar tersebut terbentuk suasana alam pedesaan dengan lingkungan flora serta faunanya dan Ahmad Tohari berhasil melukiskannya dengan bahasa yang bagus dan menarik. Kesan yan begitu mendalam terhadap latar tersebut juga lebih diperkuat lagi oleh tidak terlalu luarbiasanya unsur-unsur lain seperti kerangka cerita, tema, alur, karakter tokoh dan lain-lain. Continue reading “Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal”

Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra

Salam buat Pak Guru Biologi

Ahmad Tohari
Majalah Horison, Maret 1984

Novel saya Ronggeng Dukuh Paruk (RDP), Gramedia 1982 mendapat kehormatan dibicarakan oleh banyak pengamat dan ahli sastra. Sebagai pemain alam yang bahkan sukar melakukan studi kepustakaan, pembicaraan para pengamat dan ahli sastra tersebut amat menguntungkan saya. Jadilah saya seorang petatar yang begitu ikhlas dan setia mendengarkan ceramah para penatar. Semua saya lakukan demi peningkatan pengetahuan saya di bidang sastra. Continue reading “Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra”

Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk

Hantam Kromo Bikin Keqi

F. Rahardi *
Majalah Horison, Mei 1984

Seandainya saya hanya menulis yang wajar-wajar saja dalam Cacat Latar yang Fatal (Horison 1/1984) tanpa adanya embel-embel hantam kromo segala macam, maka Ahmad Tohari konon tidak akan begitu keqi. Begitulah kira-kira yang dapat saya tangkap dari tulisannya Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (Horison 3/1984). Syukur alhamdulillah, sebab pertanyaan saya yang konon meskipun bersahaja tapi sangat tidak simpatik tersebut saya tulis bukannya tanpa dasar. Continue reading “Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk”

Membangun Kembali LKN, Lekra, dan Lain-lain

Hardi
Kompas 4 Feb 2001

Sebelum menuliskan gagasan saya tentang kemungkinan dibangunnya kembali lembaga kebudayaan oleh masing-masing partai politik yang dianggap besar seperti sekarang ini, saya terlebih dulu membaca buku Prahara Budaya yang disusun oleh Taufiq Ismail dan DS Mulyanto almarhum, saya agak miris dibuatnya. Jangan-jangan bila lembaga kebudayaan baru yang dibangun partai politik kita nanti justru semakin memecah belah persatuan bangsa, padahal tujuan saya justru untuk meredam atau setengah mengeliminir kekuatan satgas partai yang cenderung militeristik dan gampang melakukan kekerasan. Continue reading “Membangun Kembali LKN, Lekra, dan Lain-lain”

LEMBAGA KESENIAN DAN PARTAI POLITIK

F. Rahardi *
Kompas 25 Feb 200l

Belakangan ini kembali muncul gagasan untuk menghidupkan lagi lembaga kesenian (lembaga kebudayaan) yang berafiliasi ke partai politik. Gagasan tersebut antara lain dikemukakan oleh pelukis Hardi. Untuk kondisi Indonesia sekarang ini, gagasan menghidupkan kembali lembaga-lembaga tersebut, kalau dilaksanakan akan sangat potensial bermuara ke pemecahbelahan potensi bangsa di sektor kesenian. Continue reading “LEMBAGA KESENIAN DAN PARTAI POLITIK”

Bahasa ยป