Posted by PuJa on February 8, 2009
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Perkembangan sastra Indonesia mutakhir, diramaikan oleh semakin maraknya sastra cyber. Dunia sastra kerap kali ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral dan hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu. Menulis sastra diibaratkan seperti seorang empu yang tengah menempa keris sakti mandra guna, tidak sederhana dan melewati ritus-ritus khusus.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on January 27, 2009
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Karena berpotensi mengobarkan semangat kebangsaan, pemerintah kolonial membatasinya. Di tengah geliat dunia sastra tanah air, Sastra Melayu Tionghoa seolah menjadi sebuah bagian yang terlupa. Nama-nama seperti Kwee Tek Hoay, Thio Tjien Boen atau Gouw Peng Liang seperti terkunci rapat dalam ruang kedap suara.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on January 12, 2009
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Sejarah sastra tak selalu memunculkan, tapi juga menggelapkan nama-nama. Sastra Indonesia dihantui oleh sejarahnya!. Pendapat tersebut pernah dikemukakan oleh kritikus sastra Nirwan Dewanto delapan tahun silam. Nirwan khawatir apabila sejarah semata-mata dipandang sebagai kumpulan kisah asal muasal, maka akan menciptakan beban bagi titik-titik pembaruan sastra di tanah Air.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on January 2, 2009
Grathia Pitaloka http://www.jurnalnasional.com/ Teater Garasi menyiapkan setiap eksponen pendukungnya, termasuk aktor, adalah kreator. Dua orang perempuan sibuk bersolek di sudut ruang terbuka. Lalu lalang orang yang lewat seolah tak mengganggu aktivitas mereka untuk menyapu pupur ke muka. Di muka yang berbeda beberapa anak tampak sibuk melarikan diri dari kejaran Satuan Polisi Pamong Praja.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 21, 2008
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Seorang perempuan menelungkupkan kepala di atas meja. Dari mulutnya terlontar igauan-igauan keras mengenai grafik pemeliharaan, grafik penghancuran, rencana regional, rencana tata ruang, konstruksi pembangunan negara-negara miskin.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 23, 2008
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Setelah menapaki perjalanan kreatif seperempat abad, kini siap bergerak dengan generasi baru. Atas nama moral, Susila Parna, seorang penjual mainan anak-anak diringkus oleh aparat. Lelaki bertubuh gendut ini dituding telah melakukan tindakan asusila dengan mempertontonkan aurat di muka umum. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Susila kegerahan karena terlalu bersemangat menari tayub. Tak [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
“Kesenian Bukan Hal Angker” Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ USIA yang telah kepala enam tak menjadi halangan bagi Putu Wijaya untuk terus melahirkan karya seni. Sebagai bukti, pada monolog Merdeka yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu, Putu masih kuat jumpalitan di atas panggung.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on November 13, 2008
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Tetap menarik dieksplorasi, ketika setiap penyair bebas berbeda, mencipta dan memiliki harapan. Indonesianis Ben Anderson pernah mengatakan bahwa rasa kebangsaan dapat diekspresikan melalui berbagai saluran. Tidak hanya lewat institusionalisasi sosial dan politik, tetapi juga melalui pengembangan kebudayaan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 26, 2008
Grathia Pitaloka http://jurnalnasional.com/ Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia. Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa [...]
Filed under: Esai