Menggali Lagi Warna Lokal

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia. Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, dll. Continue reading “Menggali Lagi Warna Lokal”

Militer dalam Novel Kita

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional,19 Okt 2008

Novel Indonesia dihuni banyak tokoh dari beragam profesi, seperti wartawan, guru, pedagang, mahasiswa, dan juga militer.

Militer seolah tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak terkecuali dalam perkembangan dunia sastranya. “Bagi para sastrawan angkatan 45, militer sempat menjadi tema yang inspiratif,” kata Nurinwa Ki S Hendrowinoto kepada Jurnal Nasional, Selasa (14/10). Continue reading “Militer dalam Novel Kita”

Menimbang Diponegoro dalam Fiksi

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008

Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.

Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. “Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia,” kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10). Continue reading “Menimbang Diponegoro dalam Fiksi”

Bahasa ยป