Menggali Tradisi Hari Sastra Nasional

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

Mengenang hari berpulangnya penyair Chairil Anwar, 28 April, tidak cukup dengan menundukkan kepala. Sebab bertepatan dengan hari wafatnya itu juga merupakan Hari Sastra. Di era tahun 1950-an, masyarakat peduli sastra Indonesia, khususnya mahasiswa sastra di Universitas Indonesia, Jakarta dan Universitas Gajah Mada Yogjakarta, secara rutin setiap tahun memperingati Hari Sastra pada 28 April. Namun, mengapa kini hari bersejarah itu tidak terdengar lagi kabarnya? Continue reading “Menggali Tradisi Hari Sastra Nasional”

Sastra Kemerdekaan, Sastra Angkatan 45

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

Masih dalam suasana memperingati HUT ke-58 Kemerdekaan RI, ada baiknya menoleh sejenak seputar Proklamasi 17 Agustus 1945, relevansinya dengan sastra yang berkembang masa itu. Ketika itu, sejarah sastra Indonesia mencatat revolusi baru di bidang sastra yang populer dengan istilah sastra angkatan 45, telah lahir. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, sastra angkatan 45 dijuluki sastra kemerdekaan. Mengapa demikian? Continue reading “Sastra Kemerdekaan, Sastra Angkatan 45”

Latar Indonesia dalam Karya Sastra Tionghoa

I Nyoman Suaka

Beranda

Karya-karya kesusastraan peranakan Tionghoa di era tahun 1920-an, kini bangkit kembali dan banyak beredar di pasaran. Bahkan tidak canggung-canggung, buku sastra itu terbit berseri (jilid satu sampai delapan) yang bertajuk ”Sastra Melalui Peranakan Tionghoa”. Buku itu membicarkan tentang karya sastra kaum penulis Tionghoa tempo dulu. Anehnya, ketika karya sastra itu terbit pertama kali, pernah dijuluki sebagai bacaan picisan, murahan dan bermutu rendah. Akibat julukan itu, maka hasil kesusastraan peranakan Tionggoa tergolong bacaan liar. Mengapa demikian? Continue reading “Latar Indonesia dalam Karya Sastra Tionghoa”

Pers dan Kesusastraan

I Nyoman Suaka*

Beranda

Masih dalam suasana memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2003, ada baiknya semua pihak diiingatkan pada tokoh-tokoh yang berjasa di bidang pers. Di antara tokoh pers itu terdapat golongan literary journalist — wartawan sastrawan. Golongan ini adalah mereka yang memang sastrawan dan juga bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar. Beberapa tokoh pers yang tergolong literary journalist adalah Adinegoro, Abdul Muis dan Rosihan Anwar. Deretan nama ini dapat diperpanjang lagi seperti Akhdiat Kartamiharja, Ramadhan KH., Putu Wijaya dan Gerson Poyk. Continue reading “Pers dan Kesusastraan”

Sastrawan masih Trauma Terjun ke Politik?

I Nyoman Suaka
balipost.co.id

Menjelang Pemilu 2004, hampir tidak terdengar ada sastrawan yang masuk menjadi calon legislatif (caleg) sebuah partai. Berbeda dengan seniman lain seperti penyanyi, aktor, bintang film dan sinetron. Para selebritis itu ramai-ramai dilamar oleh pengurus partai karena diyakini sebagai mesin pengumpul suara. Bahkan ditempatkan sebagai caleg nomor kecil alias caleg jadi. Apakah sastrawan tidak berminat terjun ke panggung politik? Continue reading “Sastrawan masih Trauma Terjun ke Politik?”

Bahasa ยป