
Maman S. Mahayana * Continue reading “9 DARI NADIRA: SEBUAH MONUMEN”
DUNIA ANAK-ANAK DALAM KESENGSARAAN PANJANG
Maman S. Mahayana *
Bibhutibhushan Banerji, Pater Pancali: Tembang Sepanjang Jalan, terj. Koesalah Soebagio Toer, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996), 491 halaman.
India sungguh merupakan negeri yang amat kaya dengan tradisi kebudayaannya. Dalam sastra lisan, negeri berpenduduk hampir semiliar itu, pada abad ke-3 telah melahirkan Pancatantra karya seorang Brahmana India, yang kemudian menjadi sumber cerita-cerita binatang (fabel). Karya Valmiki, Ramayana dan Vyasa, Mahabharata, juga merupakan mahakarya yang berasal dari sana. Continue reading “DUNIA ANAK-ANAK DALAM KESENGSARAAN PANJANG”
TAFSIR ATAS COVER MAJALAH TEMPO
Maman S. Mahayana *
Mabes Polri memperkarakan majalah Tempo, edisi “Rekening Gendut Perwira Polisi.” Tuduhannya, Tempo menghina institusi Polri sebagaimana diatur Pasal 207 dan 208 KUHP (Kompas.com, 1 Juli 2010). Musababnya, cover majalah itu menggambarkan seseorang berseragam cokelat sedang menggiring tiga celengan babi berwarna pink dengan tali police line. “Penafsiran kami, personifikasi polisi bergaul dengan babi. Kalau itu sebut perwira menggiring babi, itu seolah-olah menggiring prajuritnya,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen (Pol) Edward Aritonang (30/6/2010). Dikatakan lagi, “Tidak ada itu dalam budaya kita celengan babi, yang ada ayam.” Continue reading “TAFSIR ATAS COVER MAJALAH TEMPO”
KELINDAN TRAGEDI DAN EKSOTISME

Maman S Mahayana * Continue reading “KELINDAN TRAGEDI DAN EKSOTISME”
“Indonenglish” : Karena Sihir Bahasa Indonesia
Maman S. Mahayana *
Kompas, 16 Des 2006
Bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia, sudah sejak lama mengandung dan mengundang sihir. Ia menyimpan kekuatan magis. Siapa pun yang berhubungan intim dengannya, bakal terjerat pesona. Menggaulinya laksana menggerayangi sosok tubuh yang penuh misteri.
Semakin mengenal seluk-beluknya, semakin ingin mengungkap daya pukaunya. Di situlah, bahasa Indonesia sebagai saluran ekspresi. Ketika bahasa etnik mampat dan gagal menjadi alat komunikasi yang dapat dipahami etnik lain, ketika itulah bahasa Indonesia tampil sebagai pilihan. Continue reading ““Indonenglish” : Karena Sihir Bahasa Indonesia”
