Nurel Javissyarqi
Dua esai Tardji sebagai lampiran sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” dari akar-akarnya, yaitu tradisi.
Dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa, ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang, pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru kepada yang dihadapinya. Olah ini mampu membuat bingung sehingga mudah menyerang balik. Biasanya ajian ini dipakai dalam keadaan terjepit. Jika ditampakkan di permukaan menjadi pengecoh. Bahasa sederhananya berpura-pura atau menipu. Continue reading “Akhirnya”
