Tag Archives: Prosa

Air Mata Cinta yang Mencari Ruang Maha

Imron Tohari

Airmata itu menari-nari mencari ruang Maha layaknya angin yang bertiup, melayuk, membelai dedaun di ruang-ruang jumantara. Dan langit terang jua adanya murai berkicau di pucuk-pucuk cemara, pun entah di mana kicaunya lesap kala kelam menggulat alam, seperti saat tubuh-tubuh tak lagi berpeluk, bibir-bibir tak lagi berkecup, kesendirian mengantar tangisan kekasih. Masihkah burung merak bisa membanggakan bulu-bulu indahnya? Sedang para pemburu terbuai nyanyian perdu peri-peri hutan.

BILA SEKAR MEMBELUKAR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

Ayunda Florentina Betty Suharti.
Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon kehidupannya sehari-hari senantiasa dirundung gersang, bagaikan di lautan pasir, yang tiada nampak sepotong pun selain pokok-pokok zaitun yang kerontang, dan sesekali genangan air yang keruh, tak memuaskan tegukan harap. Berbagai cercaan hawa nafsu dari indera yang bergerak-serta.

Prosa-Prosa Ahmad Syauqi Sumbawi

http://media-lamongan.blogspot.com/
Bayang Diri

Sebuah gedung bertingkat empat. Di lantai paling atas, laki-laki itu seorang diri. Berdiri menyandarkan bagian depan tubuhnya pada tembok pembatas. Bagian atap yang menjorok ke depan di atasnya, melindungi dirinya dari sinar matahari yang menambahkan tajam menyilaukan mata bersama hari yang menanjak siang.

Simpang Jalan

Imron Tohari

Lelaki paroh baya itu masih bersimpuh di bawah pohon rindang, didekap erat di pangkuannya kantong kulit yang tidak terisi penuh anggur. Beberapa kali kepala mendongak ke atas, menatap burung bertengger di ranting pohon yang tengah asyik berkicau.

Seakan ingin melepas segala beban yang tengah menindih otaknya, Lelaki paroh baya sandarkan tubuh pada batang pohon yang semenjak tadi hanya diam membisu. Ia, lelaki paroh baya itu, menghela nafas dalam-dalam.

AKU, KAU DAN LELAKI ITU

Lina Kelana

Aku, wanita yang tercacah peran. Sempurna belatinya mencabik dan mengoyak dagingku hingga tertinggal perih di ulu. Sendi sendi tulangku mulai keropos dan menguap. Memamah ngilu di denyut yang hanya bersisa degup tanpa jantung. Aroma anyir semerbak membumbung mengumumkan lambung lambung kosong yang kerontang. Menandai udara, panasnya mulai menyapa bersama hadirnya mentari setinggi kepala. Ketika senja bergegas mengganti siang, ngilu di lukaku menjadi lumer.