Renungan Cerpen dari Sungai Martapura

Raudal Tanjung Banua
jurnalnasional.com

Selesai mengikuti Kongres Cerpen V di Banjarmasin beberapa waktu lalu, saya menyempal ke tepian Sungai Martapura dan mencoba merunut-runut lagi “Pengantar Redaksi” yang saya tulis di Jurnal Cerpen edisi 8. Apakah yang saya tulis tentang fenomena cerpen “gumam” tidak berlebihan, atau memang semacam potret kecil yang tak terhindarkan? Continue reading “Renungan Cerpen dari Sungai Martapura”

Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran

Raudal Tanjung Banua
sinarharapan.co.id

Posisi naskah drama dalam khazanah teater tanah air sebenarnya relatif unik, seunik keberadaan jagad teater itu sendiri. Kita misalnya, mengenal teater modern dan teater tradisional, yang relatif tidak popular dalam khazanah teater Barat. Salah satu unsur pembeda yang utama terletak pada ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Continue reading “Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran”

Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Continue reading “Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang”

Merayakan Cerpen, Menimbang Agus Vrisaba

Raudal Tanjung Banua
sinarharapan.co.id

Cerpen sedang mengalami “perayaan”. Dalam ranah penciptaan misalnya, kita mendapatkan barisan kreator yang sedang bergairah mengusung berbagai tema dan estetika. Dunia penerbitan pun tak kalah bergairah menyambutnya. Publikasi yang luas, ikut merebut perhatian dan atensi publik, sehingga jadilah cerpen sebagai genre yang sedang dirayakan bersama. Continue reading “Merayakan Cerpen, Menimbang Agus Vrisaba”

DUA KOTA IKAN

Raudal Tanjung Banua
jawapos.com

SIANG itu, di masa laluku yang seliar ikan-ikan, aku sedang memandang gugusan awan yang bergelantungan di langit, dan tiba-tiba aku merasakannya serupa kawanan ikan yang berenangan hingga ke batas cakrawala. Makin lama makin banyak, berarak seperti digiring tangan gaib penguasa lautan; yang kecil-kecil liar, yang besar-besar bergerak lamban, dan semuanya berkumpul di timur laut, di atas sebuah tempat yang sebentar lagi akan dibasuh deras hujan. Continue reading “DUA KOTA IKAN”

Bahasa ยป