Cinta + Sastra = Infinitif

(Serapan dari energi pengajian Padhang mBulan 19 Maret 2011)
Sabrank Suparno

Cinta. Kasih. Sayang. Apa beda di antara ketiganya. Cinta: jaringan empati dengan hal lain yang kita butuh kemanfaatan balik darinya. Kasih: bagian reaksi cinta yang bergerak aktif keluar, output, memberi kemanfaatan pada hal lain yang berupa benda, realitas lahiriyah. Sayang: bagian dari susunan cinta yang bergerak aktif ke suatu hal yang berupa sikap jiwa, rasa batin. Continue reading “Cinta + Sastra = Infinitif”

NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing

Sabrank Suparno

Menelusuri kiprah para muda NU sepeninggal tokoh muktabar Abdurrahman Wahid, diam-diam generasi penerusnya aktif melakukan upaya terobosan yang mengarah ke pembangkitan kesadaran kembali, terutama pada wilayah tradisi keNUan atau yang dikenal dengan ‘tradisi santri’. Geliat ini dapat kita amati dari berbagai acara yang berkenaan dengan keNUan dari berbagai sektor kehidupan sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan sastra, bahkan soal yang remeh sekali pun perihal ‘guyonan nyentrik ala NUis. Continue reading “NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing”

Bunga Besut

Sabrank Suparno

Marsudi benar-benar hilang. Entah kapan persisnya, aku tak punya tanda pengingat khusus, semisal jaman Semeru meletus yang tiap dedaunan dipenuhi debu hingga sempal, jaman hama wereng yang menggagalkan panen padi, jaman pederos yang mencekam karena tiba-tiba ditemukan mayat terbungkus karung, atau ketika muncul peristiwa manggar emas, manggar yang diterpa bias sinar mentari sore, sehingga warnanya persis seperti emas. Dan, hanya sore itu, tidak terjadi lagi pada sore berikutnya hingga kini. Tak pelak sore itu banyak orang berkerumun,menyaksikan manggar yang berupa emas. Continue reading “Bunga Besut”

Kemenangan Setan Hingga Pelosok Desa

Sabrank Suparno *

Setan. Siapa pun tak asing mendengarnya. Cuma wujud ditafsir beribu makna. Ia tercipta dari unsur api. Dalam cerita Ajam (Arab kuno), terkisah demikian: Awalnya Setan bernama Azazil, malaikat tertua yang paling dikagumi Alloh dari pada Jibril. Namun karena Azazil kepincut planet Bumi, yang artinya mengagumi ciptaanya dan melupakan penciptanya, maka Alloh membikin saingan cinta di Bumi dengan nama Adam. Continue reading “Kemenangan Setan Hingga Pelosok Desa”

Sastra Singo Edan Meraung Gemontang

(Reportase, bedah “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono)
Sabrank Suparno

Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri. Continue reading “Sastra Singo Edan Meraung Gemontang”

Bahasa »