Sampaikan Surat Ini Kepada Maksimin

Muhammad Yasir

Maksimin seorang derma yang pesakitan dan lebih tua hampir 20 tahun dariku. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya tidak terawat sepertinya begitulah perangai seorang serdadu yang kalah perang. Dua bulan belakangan ini, dia kerap menghabiskan hari-harinya di sebuah kamar sumpek. Dia menulis dan menyunting di sana. Semua penulis, barangkali, memiliki prinsip individual dalam kerja-kerja kreatifnya. Tentu ada kebebasan yang aneh yang terkandung di dalamnya. Continue reading “Sampaikan Surat Ini Kepada Maksimin”

Novel Orang-Orang Bertopeng (25 Tamat)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS *

Keesokan harinya Salman dimakamkan. Acara pemakaman dibuat sesingkat mungkin. Secepat mungkin. Tapi yang melayat cukup banyak karena selain orang tua Salman cukup disegani, kematian Salman boleh dibilang sangat tragis. Baru saja Salman melangsungkan pernikahan, mendapat istri cantik, kini ia harus menerima dua peluru yang sekaligus merenggut nyawanya. Abah, Umi dan Fatma turut hadir dalam upacara pemakaman itu meski harus sering-sering menunduk menghindari tatapan aneh terutama dari keluarga Salman yang seolah tidak bisa menerima kematian Salman yang terjadi hanya sehari setelah pesta pernikahan. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (25 Tamat)”

Ikhtiar Puisi dan Prosa Mardi Luhung

Judul: Belajar Bersepeda (kumpulan puisi)
Penulis: Mardi Luhung
Tebal: viii + 68 hlm
Penerbit: buku bianglala, Gresik
ISBN: 978-602-8671-74-3
Peresensi: Umar Fauzi Ballah
Kompas, 24 Juni 2012

Lima tahun belakangan ini, jika kita merunut proses kreatif Mardi Luhung kita akan mendapatkan fakta: pertama, “keinsyafan” Mardi Luhung (ML) meninggalkan binalitas dalam diksi puisinya sebagaimana terangkum dalam Ciuman Bibirmu yang Kelabu (CByK) (2007) maupun yang lahir sebelumnya yang takterangkum dalam antologi tersebut. Continue reading “Ikhtiar Puisi dan Prosa Mardi Luhung”

Bahasa »