Buku-Buku tanpa Kata

Setyaningsih *
Republika, 7 Agu 2016

Tanpa kata-kata, sebuah buku tetap menjadi buku. Memasuki toko buku akhir-akhir ini, kita bisa disapa oleh sekelompok buku tanpa kata-kata sebagai isian makna. Kata-kata barangkali hanya judul, pengantar, atau selingan, bukan kata-kata untuk dibaca.

Kata-kata diganti dengan gambar untuk diwarnai. Buku-buku itu dinamai Coloring Book for Adult. Tema flora, fauna, kain Nusantara, kartun, kota, pemandangan alam, dan tubuh manusia memberi ujian mewarna tanpa membaca. Continue reading “Buku-Buku tanpa Kata”

Novel Orang-Orang Bertopeng (24)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

LIMA BELAS

UMI mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. Wajah Umi muram, gelisah. Gelisah karena Fatma belum pulang. Fatma sengaja pergi meninggalkan rumah, begitu kira-kira kesimpulan Umi. Tapi diam-diam orang-orang kampung mulai tahu apa yang melatarbelakangi kepergian Fatma. Apa yang membuat gadis cantik dan pendiam itu tiba-tiba pergi dari rumah tanpa pamit. Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan Fatma. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (24)”

Revolusi Orang-Orang Tidak Merdeka

Muhammad Yasir

Tahun 1941, sahlah aku menjadi seorang terdidik dari Zending Vervolgschool; sekolah milik Belanda di Kasongan. Dan, entah kenapa, tidak sekali pun terbesit dalam kepalaku untuk menjadi Belanda, meskipun Meneer Dedrick van Defras; seorang guru bahasa Belanda yang baik dan selalu menyuruhku untuk datang ke rumahnya setiap sore hari, menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan ke Hollandsche Indische Kweekschool di Batavia. Aku memilih Kalimantan, karena tubuhku dan hidupku terbentuk dari kemuliaannya. Secara diam-diam, aku telah memantap diri dan keyakinanku untuk menjadi seorang guru. Dan, tanpa sepengetahuan Menner Dedreick Van Defras, aku melanjutkan pendidikan sekolah guru ke Kioin Josejo di Sampit. Continue reading “Revolusi Orang-Orang Tidak Merdeka”

BIBIR YANG SELALU BASAH ITU

—mengenang Budi Darma—

Taufiq Wr. Hidayat *

Tatkala malam yang dalam, perempuan itu melihat wajahnya pada cermin di ruang tamu. Entah kenapa, dulu ia meletakkan cermin antik itu di ruang tamu. Tidak di kamar. Meja kayu. Kursi kayu. Dan asbak yang dipenuhi puntung rokok putih. Bunga plastik. Ia melihat wajahnya pada sehelai cermin antik yang dibeli seorang laki-laki di sebuah pasar bekas. Dulu. Ketika ia baru saja keluar dari sebuah hotel menuju pulang, bersama laki-laki setengah baya masuk pasar, lalu laki-laki setengah baya itu membelikannya cermin. Continue reading “BIBIR YANG SELALU BASAH ITU”

Bahasa ยป