KEIDIOSINKRETISAN DAN KEMOMENTANAN APRESIASI SASTRA (13)

Djoko Saryono *

Di muka sudah disinggung ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan proses berlangsungnya apresiasi sastra. Ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini perlu dijelaskan dan ditegaskan supaya penjelasan tentang keberanekaragaman dan faktor-faktor yang memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang konstan, tetap, dan tidak berubah. Sebabnya, kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra dan faktor-faktor yang memengaruhinya berkaitan erat dengan keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini. Continue reading “KEIDIOSINKRETISAN DAN KEMOMENTANAN APRESIASI SASTRA (13)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (22)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

EMPAT BELAS

ABAH dan Umi tidak menyangka jika pesta perkawinan Fatma dan Salman bisa berjalan lancar dan meriah. Lebih meriah dari yang mereka perkirakan sebelumnya. Sewaktu dites baca al-qur’an di depan Tuan Kadi (penghulu), Salman cukup fasih membawakannya. Demikian pula saat acara balas pantun yang sesekali mengundang senyum para tamu. Seiikat pohon tebu, lima belas butir kelapa, tiga tandan pisang, sekeranjang nanas dan emas 5 mayan (sekitar 15 gram), juga sudah diserahkan keluarga Salman. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (22)”

Bapak

Felix K. Nesi *
Jawa Pos, 22 Des 2019

Saya sedang menyetrika ketika kepala Bapak nongol dari balik pintu.

”Di mana kamu ikat sapi?” ia bertanya.

”Di pohon ampupu. Dekat kandang babi,” saya menjawab.

”Tidak ada.”

Matanya seperti datang dari masa lalu. Masa ketika saya yakin bahwa saya bisa bermain bola, dan ia bersikeras bahwa saya tidak mampu menjadi atlet. Continue reading “Bapak”

Bahasa »