Novel Orang-Orang Bertopeng (21)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

TIGA BELAS

SEBUTIR peluru melesat dari moncong senapan dan sebuah botol minuman pecah berserak di atas tanah. Batang-batang rumput patah, tercerai-berai oleh pecahan kaca yang tajam bagaikan mata pedang. Daun-daun remuk oleh getaran peluru yang melesat kencang seperti kilat menyambar wuwungan. Lalu, sepi. Sunyi. Hanya asap tipis mengepul dari moncong senapan dan sepasang bola mata merah, tajam, mengamati pecahan kaca yang remuk itu sembari tertawa. Tak jelas bagaimana bentuk mulut orang itu ketika tertawa karena wajahnya tertutup topeng. Tapi jelas ia seorang laki-laki. Gagah. Kekar. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (21)”

Bahasa »