Posted by PuJa on May 20, 2012
Dorothea Rosa Herliany * Kompas, 22 Maret 2009 AWAL bulan ini (4-10 Maret 2009), Dubai menyelenggarakan sebuah festival puisi yang sangat spesial. Ratusan penyair dari 45 negara datang dan masing-masing membacakan karya puisi-puisi mereka di enam lokasi berbeda (termasuk pusat pertokoan dan klub-klub sosial yang ada di Dubai) hampir setiap malam. Para kritikus sastra dari [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Esha Tegar Putra * Padang Ekspres, 22 Maret 2009 SETELAH Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbitan Akar Indonesia edisi 9 (sembilan) beberapa bulan yang lalu hadir dengan judul “Ratusan Mata di Mana-mana”, kini pada edisi 10 (sepuluh) JCI tampil dengan tema baru, “Regenerasi dan Panggung Muda Cerpen Indonesia”.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Her Suganda * Kompas, 27 Maret 2009 IBARAT batu karang, Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, selama 20 tahun lebih tak pernah surut dari mimpinya. Setiap hari sepulang bekerja di Perkebunan Karet Gunung Hejo, PT Perkebunan Nusantara VIII, ia berkeliling kampung-kampung di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, dengan berjalan kaki. Dengan sabar ia menyambangi penduduk desa, menawarkan jasa [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
Mila Novita Sinar Harapan, 28 Maret 2009 Sebagian orang percaya bahwa apa yang tertuang di karya fiksi sesungguhnya menggambarkan realitas dalam masyarakat. Ketika realitas terlalu tabu untuk diungkapkan secara nonfiksi, fiksi pun menjadi pilihan. Begitulah Mery DT, seorang penulis yang baru pertama kali menerbitkan novelnya, ketika mengangkat isu lesbian. Judulnya terasa “sangat Inggris”, Love You [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Sunaryono Basuki Ks * _Suara Karya, 28 Maret 2009 MOHON maaf sebelumnya kepada semua pihak kalau-kalau yang saya tulis ini menyinggung perasaan atau wibawa atau apa saja yang Anda punyai. Tulisan ini sekedar mengemukakan keheranan saya akan kreatifitas bangsa ini dalam memberi nama-nama tempat.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Indra Tranggono * Kompas, 29 Maret 2009 SETIDAKNYA sejak era 1980-an, tanpa sadar, ”kita” menyelenggarakan ”perkabungan” kebudayaan atas ”terbunuhnya” kultur tatap muka. ”Kita” makin kesulitan untuk bertemu, berdialog secara intens, saling menyelami batin, mencium bau keringat, dan mengenali kemanusiaan dalam sebuah ruang sosial yang kondusif. ”Kita” mengalami keterasingan: kesendirian pun telah mengkristal menjadi kesunyian.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Ilham Khoiri Kompas, 29 Maret 2009 Kami pun setiap malam berada dalam ruangan itu: dia main piano dan aku mendengarkannya. Yang selalu dimainkannya adalah Fur Elise, salah satu mahakarya Beethoven yang selalu membuatku seperti mengambang dalam keheningan untuk kemudian lenyap menjelma butir-butir udara yang dihirup dan dihembuskannya… Kami tak pernah bersentuhan. Hanya kadang memandang, mungkin [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
Fransisca Dewi Ria Utari Jurnal Nasional, 29 Maret 2009 DALAM buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir. Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on May 19, 2012
Susandro http://www.harianhaluan.com/ REALITAS TEATER PADANG PANJANG Perhelatan dalam memperingati Hari Teater Sedunia yang bertajuk ‘Panggung Publik Sumatera; Menjamu Penonton di Ruang Publik’, diselenggarakan di Kota Padang Panjang tepatnya di gedung M. Syafei pada tanggal 26-27 Maret 2012 oleh komunitas-komunitas teater di Padang Panjang, telah usai.
Filed under: Esai