Pidato Kebudayaan Albert Camus

Saat Menerima Nobel Sastra 1957

Dalam penerimaan atas penghargaan yang telah begitu murah hati diberikan kepada saya oleh akademi anda yang bebas, saya ucapkan terima kasih secara mendalam, terutama ketika saya ingin mempertimbangkan sejauh mana penghargaan ini telah mempengaruhi kemampuan pribadi saya. Setiap manusia, dan untuk alasan yang kuat, setiap seniman, ingin diakui. Saya juga demikian.

Continue reading “Pidato Kebudayaan Albert Camus”

MEMBACA PROSES KESADARAN MANUSIA

Catatan Kesan atas Kumpulan Cerpen “Bocah Luar Pagar”
Ahmad Syauqi Sumbawi

Lahirnya sebuah karya sastra, pada umumnya, merepresentasikan proses berkesadaran. Dimulai dengan pembacaan atas hidup dan kehidupan, manusia membuat jarak. Bukan terpisah, tetapi menjadikannya sebagai “medan makna” untuk kemudian hadir dengan kesadaran atas eksistensinya, yang termanifestasikan dalam karya. Karena itu, sebuah karya sastra tidak hanya bermakna, tetapi juga menciptakan ruang bagi tumbuhnya kesadaran pada diri manusia. Continue reading “MEMBACA PROSES KESADARAN MANUSIA”

Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru

Indonesia – Prae-Indonesia *)
Sutan Takdir Alisjahbana

Berbicara tentang masyarakat dan kebudayaan baru, yang dimaksud tentu adalah masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, yakni masyarakat dan kebudayaan yang tergambar dalam hati semua penduduk kepulauan ini, terutama yang mengharapkan tempat yang layak bagi negeri dan bangsanya, berdampingan dengan bangsa lain di muka bumi ini. Untuk membicarakan masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, pertama sekali kita harus memahami arti Indonesia sejelas-jelasnya, terlepas dari segala bungkusan dan tambahan yang mengaburkannya. Continue reading “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”

Memahami Keberatan Nurel dalam bukunya MMKI

“Kun Fayakun” ; Kata, Makna, beserta Rujukannya
Mahmud Jauhari Ali *


Saya sedang membongkar buku ini. Melepaskan sampul depan, punggung buku, dan sampul belakangnya. Lalu memisah-misahkan lembar demi lembar kertas yang memuat pendahuluan, isi, serta penutupnya. Mungkin seperti itulah gambaran dalam otak saudara sekalian, jika saya katakan lagi membongkar sebuah buku; buku apa saja. Padahal tidaklah demikian adanya. Ini sama halnya dengan kalimat pendek yang berseliweran setiap kali menjelang hari raya, semisal saat pertengahan bulan Juni lalu; “Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah!” Dalam gambaran di kepala saya, orang-orang itu bersuara lantang mengujarkan kalimat tersebut. Tetapi tidaklah demikian, bukan? Continue reading “Memahami Keberatan Nurel dalam bukunya MMKI”