Hudan Hidayat
bait pertama puisi mangga dua iwan gunawan, mungkin bagi pembaca yang menghendaki suatu bahasa indah dari cara menyusun kata, dan terutama perburuan dan kombinasi atas kata kata baru dalam bentukkannya yang baru, akan tiba pada suatu kesimpulan, bahwa puisi ini biasa saja. tak ada yang istimewa dari sebuah deskripsi yang dilakukan oleh penyair itu. tapi tidak bagi saya. sebab saya meletakkan pengucapan puisi ini ke dalam suatu konteks mistik sebuah kota besar – jakarta, yang selalu penuh cerita pedih atas tiap orang miskin, setidaknya orang yang hidupnya pas pasan seperti dalam puisi iwan gunawan ini. Continue reading “kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima”
