Dunia Puisi dan Iman

Mashuri

“Tapi aku tidak bisa menulis puisi kalau engkau menjamu tuhan dengan membunuh yang lain”

Afrizal Malna, dalam puisi Taman Bahasa
Puisi jelas berbeda dengan iman, tapi kadang juga bertemu dalam sebuah perjumpaan mesra. Tapi jangan andaikan pertemuan itu seperti sendok dan garpu di sebuah piring di meja makan, karena pertemuan itu kadang bisa berupa ngengat dan kertas, paku dan kayu, bahkan bisa serupa minyak dan air. Meski bisa pula bertemu seperti sepasang kekasih di ranjang pengantin. Tentu semua itu terkendali dalam ruang kemanusiaan. Continue reading “Dunia Puisi dan Iman”

Monsoon

Clara Ng
http://www.korantempo.com/

SUARA menggedor kencang berasal dari arah atap. Dengungan angin menderu-deru seperti suara truk yang kehabisan tenaga bersama hantaman air jatuh bergelung-gelung di halaman rumah. Bumantara mengucurkan warna yang paling kelabu selama satu jam belakangan ini. Aku menekan jendela nako ke bawah, menutup sirip-sirip kacanya. Barusan suara klik menandakan jendela telah terkunci, petir berpacu turun dalam gelegarnya menyalangkan pintu langit. Continue reading “Monsoon”

Bahasa ยป