Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?

I Nyoman Tingkat

Beranda

Perhimpunan sastrawan Bali tampaknya mendesak direalisasikan karena memang penting dan perlu. Penting untuk menjaga gawang budaya Bali yang sudah banyak kemasukan bola nyasar lewat tembakan spekulasi jarak jauh “pemain asing”. Perlu untuk semakin mengairahkan semangat berapresiasi dalam rangka memperhalus budi dan mencerdaskan atau mencerahkan masyarakat Bali. Namun, menghimpun sastrawan Bali dalam satu wadah, mungkinkah? Continue reading “Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?”

Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali

Putu Fajar Arcana
kompas.com

SAMPAI kini mungkin tak banyak yang tahu kalau penulis lagu daerah Bali berjudul Merah Putih bernama I Gde Dharna (69). Padahal hampir setiap anak Bali yang pernah mencicipi sekolahan pasti bisa menyanyikannya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan heroisme para pejuang pada tahun 50-an itu, hingga kini sering ditembangkan dalam pementasan kesenian tradisi di Bali. Para anak muda juga suka mengumandangkan lagu itu di pos-pos keamanan lingkungan. Lagu ini secara resmi pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Bali. Continue reading “Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali”

Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

Pameran besar seni rupa Prancis terkini digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Mereka menggambar dan membuat instalasi dengan menggunakan berbagai bahan remeh-temeh.

Di dinding, sebuah kalimat tertera: “Nggak ada matinya.” Mendekatlah dan lihatlah huruf-huruf itu. Ternyata dibentuk dari puntung-puntung rokok berbagai merek. Continue reading “Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis”

Wajah-wajah Karat ala Teguh

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia–dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini.

Patung-patung itu semuanya disusun dari aneka potongan rongsokan baja dan besi karatan. Tema pameran berbicara tentang deformasi wajah. Sekali lihat, pada mulanya, kita susah menangkap adanya bentuk paras atau raut muka. Continue reading “Wajah-wajah Karat ala Teguh”

Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?

Dari Ceramah Temu Sastrawan se-Bali 2003

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Bali saat ini sepertinya masih enggan atau kurang berminat untuk dihimpun dalam sebuah komunitas, perkumpulan, atau organisasi sastrawan. Selain karena rata-rata sastrawan (seniman) tersebut tidak mau dan juga “sulit diatur”, juga masih ada “trauma” melihat pengalaman atau sejarah masa lalu. Dulu, pernah bermunculan organisasi atau perhimpunan seniman di Indonesia yang akhirnya justru menjebak seniman pada kegiatan-kegiatan di luar dunia kreativitas kesenian — seperti politik praktis dan faham-golongan — yang terbukti kemudian “membunuh” masa depan kesenian dan seniman, bahkan memicu perpecahan. Continue reading “Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?”

Bahasa ยป