BERTEMU SHINTA FEBRIANY

Budhi Setyawan
budhisetyawan.wordpress.com

Kalau tidak salah pada tahun 2007 (tanggal dan bulannya lupa) saya jalan ke sebuah toko buku kecil di daerah Sumurbatu, Jakarta Pusat. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku puisi berjudul AKU BUKAN MASA DEPAN karya Shinta Febriany, yang diterbitkan oleh Bentang Budaya. Penyair ini masih begitu muda, namun tulisan-tulisannya telah menarik kekaguman saya. Memang ada semacam pengantar dari Afrizal Malna di buku itu, namun bukan dari situ saya memulai membaca. Kebiasaan saya membaca buku dari belakang seperti menemukan sesuatu yang mengalir, meski berkelok dan berliku. Continue reading “BERTEMU SHINTA FEBRIANY”

SENI, DUNIA IDE, DAN REALITAS SOSIAL

Bonari Nabonenar
http://terpelanting.wordpress.com/

Tulisan Budi Palopo di halaman Humaniora (Kompas, 22 Maret 2005) bertajuk Seni Getah Karet mengandung simpulan yang menyesatkan, berkaitan dengan penerbitan buku kumpulan puisi Duka Atjeh Duka Bersama (Dewan Kesenian Jatim dan Logung Pustaka, 2005). Duka Atjeh Duka Bersama adalah juga nama acara keprihatinan atas musibah tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

?Di Surabaya, misalnya, ada buku puisi berjudul Duka Atjeh Duka Bersama yang terkemas cantik, tapi -menurut saya?justru menunjukkan kebebalan kolektif yang terjadi dalam dunia kepenyairan,? demikian tulis Budi. Lalu, Continue reading “SENI, DUNIA IDE, DAN REALITAS SOSIAL”

Pusat Legitimasi Karya Sastra, Stigma, dan Perayaan Lokalitas*

Satmoko Budi Santoso
Suara Merdeka

PERBINCANGAN hangat yang sekian waktu berlangsung dalam arena “analisis rumpian sastra” di harian Suara Merdeka ini menurut saya ada beberapa hal yang sebenarnya mubazir karena sesungguhnya rasionalisasi karya sastra kita sudah melampaui apa yang “dirumpikan”.

Dalam konteks perbincangan sebagaimana tendangan bola wacana yang ditulis Redyanto Noor dengan judul Kiat Merobohkan Menara Gading (Harian Suara Merdeka/23/72006), misalnya. Continue reading “Pusat Legitimasi Karya Sastra, Stigma, dan Perayaan Lokalitas*”

Perempuan di Lambung Kota

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

PEREMPUAN itu sudah lenyap ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili. Continue reading “Perempuan di Lambung Kota”

Nasabah

Nyoman Tusthi Eddy*
http://www.suarakarya-online.com/

Kupandang baik-baik wanita yang duduk di depanku. Ia adalah mantan siswaku yang gagal sepuluh tahun lalu. Orang lalu lalang keluar masuk pintu. Kursi tunggu penuh dengan nasabah yang menunggu panggilan. Aku duduk di kursi pojok berhadapan dengan wanita itu, sehingga agak luput dari perhatian orang. Continue reading “Nasabah”

Bahasa »