SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR

: KESERIUSAN YANG TAK KENAL LELAH

Maman S. Mahayana *

Hamid Jabbar, Super Hilang (Balai Pustaka, 1998), xii + 397 halaman
Puisi bukanlah caci-maki. Ia juga tidak sekadar ungkapan perasaan melankolis remaja yang cengeng. Seperti juga ragam karya sastra lainnya, sangat mungkin puisi dimanfaatkan sebagai alat untuk mengungkapkan kegelisahan penyair ketika ia mesti ber-hadapan dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan atau manakala ia merindui cinta ilahiah. Continue reading “SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR”

Mem-Bali-kan Sastra Indonesia: Makna dan Masalahnya

I Nyoman Darma Putra
balipost.co.id

Perkembangan sastra Bali modern (sastra yang ditulis dalam bahasa Bali dalam bentuk modern seperti puisi, cerpen dan novel) dalam lima tahun terakhir ini semarak sekali. Kesemarakannya tak hanya ditandai dengan munculnya karya-karya asli yang beberapa di antaranya sudah meraih hadiah sastra Rancage, tetapi juga muncul banyak karya terjemahan ke dalam bahasa Bali atas karya-karya sastra berbahasa Indonesia. Continue reading “Mem-Bali-kan Sastra Indonesia: Makna dan Masalahnya”

Nasib Sastra Lisan Dikalahkan Biduan

Muhamad Nasir
http://www.sinarharapan.co.id/

?Alangke lemak nasib biduan, kalu nyanyi dapat saweran. Alangke sedih nasib senjang, kalu manggung katek yang nyawer,? (Alangkah bagus nasib biduan kalau bernyanyi dapat saweran (uang). Alangkah menyedihkan nasib pembawa sendang, kalau manggung tidak ada yang nyawer).

Demikian gambaran nasib pembawa sastra tutur (lisan) tergambar dalam salah satu bait sendang (sastra tutur, cerita yang dibawakan dengan bernyanyi dalam bahasa daerah) yang disampaikan Majenuh dari Sekayu, Musi Banyuasin (Muba) dalam Festival Sastra Tutur Pesirah (FSTP) di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Palembang, Sabtu (22/5). Continue reading “Nasib Sastra Lisan Dikalahkan Biduan”

Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor

Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

“…Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya….” (Nashar, Surat keenam belas, 1974)

Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Continue reading “Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor”

Tubuh-tubuh Pipih Sang Penebus

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Patung itu menggambarkan Santo Petrus. Materinya perunggu. Tingginya 175 sentimeter. Proporsi tubuh Santo Petrus dibuat memanjang, termasuk wajahnya. Bila kita lihat dagunya, lebih sekilan tangan. Mata Santo Petrus antara meram dan menatap ke bawah. Tangan kirinya mengapit sebuah kitab dengan sampul muka tanda salib. Sementara itu, tangan kanannya memegang sebuah kunci raksasa dengan tiga anak kunci yang dipanggul di pundaknya. Continue reading “Tubuh-tubuh Pipih Sang Penebus”

Bahasa ยป