F. RAHARDI, “MANUSIA SINGKONG” SASTRA MENGGEBRAK DUNIA

Ray Rizal
Suara Pembaruan, 26 Juni 1993

Manusia singkong, julukan yang diberikan orang kepada sastrawan Floribertus (F) Rahardi. Tak ada maksud untuk merendahkan posisi sastrawan ini dalam pelataran sastra di tanah air. Ini hanya suatu cara untuk melihat sosoknya lebih jelas. Sama halnya dengan begitu mudah memahami sajak-sajaknya secara jelas pula. Terbuhul, benang merah yang kuat antara pribadi dan sajak-sajak yang dihasilkannya. Tak salah kiranya pernyataan, karya sastra cermin pribadi pengarangnya. Continue reading “F. RAHARDI, “MANUSIA SINGKONG” SASTRA MENGGEBRAK DUNIA”

Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi

Afrizal Malna

BEBERAPA kali F. Rahardi mengatakan kepada saya bahwa sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Soempah WTS (Puisi Indonesia 1983), ia buat dengan main-main. Tidak jelas apa yang ia maksud dengan “main-main”. Apakah ia merupakan suatu cara dalam menulis sajak, yaitu cara main-main. Atau keseluruhan dari sajak-sajaknya adalah merupakan suatu permainan, suatu yang main-main, sesuatu yang tidak serius, yang tidak memiliki usaha terhadap pendalaman, suatu yang bernilai hanya sebagai suatu permainan. Dan apabila ini diteruskan akan menjadi : main-main merupakan salah satu gaya penulisan sajak. Continue reading “Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi”

PERIHAL ANTOLOGI PUISI YANG DIKANON-KANONISASIKAN ITU

Sunlie Thomas Alexander

TERKAPAR sekitar tiga jam, badan masih penat–tapi ada kerjaan-kerjaan yang mesti dilanjutkan.

Namun okelah, aku akan coba menulis sesuatu perihal Antologi Puisi 100/Lebih Penyair (disebut-sebut pula “penyair modern”) yang bikin kisruh itu. Yang kini nampaknya sudah sepanas knalpot angkot tua setelah mutar-mutar tidak tentu arah. Kendati “ribut-ribut” kali ini tentunya jauh lebih bermutu dan bermartabat ketimbang sinetron maki-makian dan blokiran beberapa hari lalu–lantaran kita bicara soal kelayakan seorang penyair dari sisi teks maupun persoalan moril. Continue reading “PERIHAL ANTOLOGI PUISI YANG DIKANON-KANONISASIKAN ITU”

Bahasa »