IMAN DAN KEMAKMURAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Pagi tadi, saya mengantarkan sebungkus kopi jenis Arabika ke kediaman Kiai Sutara. Jenis kopi kegemaran beliau. Kebetulan seorang imam masjid mendatangi kediaman Kiai Sutara. Ustadz Abdul Karim namanya. Saya sempat merekam pembicaraan antara Ustadz Abdul Karim dengan Kiai Sutara pagi tadi. Continue reading “IMAN DAN KEMAKMURAN”

Sastra, Etnisitas, dan Kebangsaan

Suryadi *
Kompas, 12 Mei 2013

Wacana sastra Indonesia sudah lama berperan sebagai sarana bagi penyemaian semangat kebangsaan. Pada zaman kolonial, karya sastra telah ikut memberi andil dalam melahirkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang akhirnya berhasil mengusir penjajah. Para founding fathers Republik Indonesia umumnya adalah intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti-penjajahan lewat beragam bacaan sastra. Continue reading “Sastra, Etnisitas, dan Kebangsaan”

Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung

Ardus M Sawega *
Kompas, 15 Des 2013

Ketika kelompok Teater Gapit dari Solo, Jawa Tengah, muncul pada tahun 1980, tebersit harapan bahwa itu bakal menjadi momentum ”kebangkitan sastra Jawa”. Setidaknya dalam bentuk ”sastra panggung”. Teater Gapit yang dibentuk dari kalangan mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta mendadak menjadi tumpuan banyak kalangan setelah beberapa dekade sastra Jawa seakan mengalami kemandekan. Continue reading “Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung”

Lima Capil F. Rahardi

RAKYAT LEBIH TUA DARI TENTARA

Suatu hari, Rendra diminta berbicara dalam sebuah diskusi terbatas di Balai Budaya Jakarta. Waktu itu dia sedang dicari-cari kesalahannya oleh aparat pemerintah. Maka pas acara diskusi itu, datanglah tentara. Sambil petentengan, Rendra menghampiri tentara itu lalu bertanya, “Ada apa DIK?” Dipanggil “DIK” perwira menengah itu marah. “Saudara memanggil saya DIK?” Continue reading “Lima Capil F. Rahardi”

WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (5)

: PERLAMBANGAN
Djoko Saryono *

Gagasan-gagasan tasawuf dalam sastra – yang merupakan transformasi dan manifestasi ajaran tasawuf – biasanya tak dituangkan secara lugas dan langsung, tetapi sering dituangkan dengan memanfaatkan lambang-lambang (simbol-simbol). Itu sebabnya, sastra bernafaskan tasawuf atau sastra sufistis demikian kaya dan pekat akan perlambangan (simbolisme) dan metafora. Continue reading “WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (5)”

Bahasa »