Novel Orang-Orang Bertopeng (9)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Perempuan tua yang ikut mengejar laju mobil terus berlari sekuat tenaga. Ia seperti tak mau ketinggalan dengan para lelaki yang mendahuluinya. Entah apa yang mendorong perempuan tua itu mengejar laju mobil. Bukankah lebih enak tinggal di rumah? Dan, jika memang perlu mengetahui kabar yang dibawa oleh pengendara mobil itu, bukankah juga lebih enak jika menunggu para lelaki itu pulang? Kalau memang benar hanya kabar yang ia butuhkan, sangat mudah didapat. Tetangga kanan kiri, bahkan tanpa diminta pun pasti akan bercerita. Jadi untuk apa ia mesti berlari? Untuk apa memaksakan diri? Salah-salah justru bisa celaka? Jatuh? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (9)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (8)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

PEGASING, Desember 1973.
SUBUH pecah oleh suara tangis bayi memekak telinga. Beberapa orang yang masih lelap tidur terbangun seketika. Tidak sulit untuk menemukan di mana asal bunyi tangis bayi. Di kampung terpencil di tepi hutan itu, hanya ada seorang perempuan yang sedang hamil tua. Tentu, suara tangis itu berasal dari sana. Siang sedikit orang-orang datang berduyun-duyun sekadar memberi ucapan selamat dan melihat bayi yang baru lahir. Tapi ada juga yang membawa gula, teh, kopi, beras atau makanan ala kadarnya. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (8)”

KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (8)

Djoko Saryono *

/0/
Kita bisa mendapatkan tiga keberadaan atau kehadiran apresiasi sastra. Pertama, ada umumnya kita merasa yakin bahwa sesuatu yang dinamakan apresiasi sastra itu hadir secara substansial dan mandiri walaupun kita belum mengetahui sosok dan jati dirinya secara tegas. Kedua, pada umumnya kita merasa yakin bahwa apresiasi sastra berbeda dan dapat dibedakan dengan, misalnya, kritik sastra dan penelitian sastra. Kemudian ketiga, apresiasi sastra merupakan sosok tersendiri dalam dunia (penghadapan) sastra atau dunia penggaulan sastra yang harus diakui dan diabsahkan. Continue reading “KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (8)”

Bahasa ยป