Laut, Komodo, Sastra

Agus R. Sarjono *

Lamensia dunung notang
Suwe santek bonga bintang
Pang bulan batemung mata

Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Lalu bermunculan di jauhan sana pulau-pulau batuan dalam warna oker, seperti pinggul perawan, bagai puisi tak tertuliskan. Continue reading “Laut, Komodo, Sastra”

Khotbah Ketua Dewan Pemakaman Rakyat

Muhammad Yasir

Hanya para Dewan Pemakaman Rakyat itulah yang benar-benar mengerti bagaimana dan seperti apa tata cara terbaik dan mulia menghantarkan manusia ke rumah terakhir mereka di Bumi! Bagaimana pun engkau mendebat mereka, sekali pun telah engkau khatamkan kitab hukum dan undang-undang, sosial dan politik, bahkan filsafat Timur dan Barat, sungguhlah mereka hanya akan menertawakanmu! Mereka, bukan binatang-binatang di gedung perwakilan atau departemen keadilan dan hak asasi manusia. Jadi, Continue reading “Khotbah Ketua Dewan Pemakaman Rakyat”

Novel Orang-Orang Bertopeng (3)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Hasan masih ingat bagaimana empat orang bertopeng tiba-tiba keluar dari balik semak belukar menyergap dirinya dan Salman. Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Begitu singkat. Bahkan ia nyaris kehilangan kesadaran setelah sebuah benda keras menghantam kepalanya. Tahu-tahu ia sudah berada dalam mobil yang kemudian melesat cepat. Tangannya diikat. Matanya ditutup kain hitam. Ia tak berkutik. Ia hanya mendengar gelak tawa orang-orang bertopeng itu. Juga asap rokok dan bau alkohol yang menyentak hidung. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (3)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (2)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Lorong panjang yang mereka lewati mirip lorong tikus; sempit, pengap, kotor, berkelok-kelok. Tembok tebal yang membatasi sisi kiri dan kanan lorong — sebagian semennya mengelupas, penuh corat-coret pilox menulis: nama orang, nama hewan, dan gambar-gambar mesum, jorok. Darah segar terpercik di tembok membentuk semacam lukisan abstrak. Tulang, entah tulang apa, seperti tulang manusia dan pecahan botol berserakan di lorong yang jika terinjak kaki akan menimbulkan suara gemeretak mirip tumpukan kayu terbakar. Lorong apakah ini? Lorong kematian? Ihh, Hasan ngeri jika ingat satu kata itu. Hasan belum ingin mati. Hasan masih ingin hidup. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (2)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (1)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

SATU

MALAM dingin. Kersik angin, ranting patah, daun gugur, tetes embun, menimbulkan irama lain di malam pekat itu. Mengalun merdu. Sesekali meliuk-liuk, menukik-nukik bagai belati terlempar di udara subuh tertimpa cahaya lampu. Lalu sunyi. Sunyi itu mengalirkan kenangan masa lalu. Satu persatu peristiwa kemudian saling berdesakan di kelopak mata seperti ingin minta dibaca dan dikenang kembali. Tapi masih adakah waktu untuk mengenangnya lagi? Adakah sebuah tempat yang nyaman untuk sekadar berbagi rasa kepada seorang sahabat, saudara, anak atau istri sembari minum kopi di warung atau teras rumah tanpa dicurigai? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (1)”

Bahasa ยป