Pengakuan Dosa di Negeri Pendosa

Muhammad Yasir

Ada sebuah gereja yang terbuat dari batu-batu besar di tepi Sungai Warswei. Pada hari Minggu yang cerah, para jemaat yang hanya dua puluh satu orang itu dengan pakaian terbaik mereka, tampak berjalan beriringan. Tentu saja, anak-anak berjalan paling depan. Sementara orang-orang dewasa dan senja usia berjalan paling belakang. Bagaimana pun, sepasang mata mereka telah dimangsa rabun dan ketakutan. Karena itu, anak-anak yang masih polos itu adalah penunjuk jalan yang tidak perlu diperdebatkan. Dan, sepuluh kaki dari iring-iringan itu, sepasang anjing pemburu menguntit. Continue reading “Pengakuan Dosa di Negeri Pendosa”

KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)

Djoko Saryono *

Empat fungsi apresiasi sastra yang sudah diulas sebelumnya tidak selalu terpisah. Ada kalanya malah berpadu. Maksudnya, dalam suatu proses apresiasi sastra bisa teremban atau tertunaikan beberapa fungsi sekaligus. Hal ini bergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresiasi sastra, dan karya sastra. Jika proses apresiasi berlangsung secara afektif-intelektual dan pengapresiasi sastra bertipe afektif-intelektual serta karya sastra berbobot atau bermutu, maka berbagai fungsi bisa tertunaikan sekaligus. Sebagai ilustrasi perhatikan puisi berikut ini. Continue reading “KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (5)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

SIANG terik. Angin menerobos semak belukar. Meliuk di antara daun dan ranting. Hati-hati Fatma melangkah di jalan tanah setapak. Fatma memilih jalan ini agar bisa cepat sampai kampung Pegasing. Tapi jalan ini penuh resiko, jika tidak hati-hati Fatma bisa tergelincir masuk ke dalam jurang. Tubuhnya meluncur ke dalam jurang di sisi kiri jalan, melayang menghantam batu atau tersangkut pepohonan, nun di kedalaman jurang. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (5)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (4)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Cerita-cerita itu sudah begitu melekat di telinga warga seperti melekatnya ingatan mereka pada maut yang setiap saat bisa datang menjemput. Tapi, sekali lagi, kampung Pegasing bukanlah seperti kampung-kampung itu. Paling tidak dahulu, jauh setelah peristiwa yang menewaskan Keucik Ibrahim dan Cut Leiha yang membuat warga kampung Pegasing harus berhati-hati dalam setiap hal. Tapi agaknya sekarang ada yang mulai berubah di kampung Pegasing. Menggelihat perlahan-lahan…. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (4)”

Bahasa »