Muhammad Yasir
Ada sebuah gereja yang terbuat dari batu-batu besar di tepi Sungai Warswei. Pada hari Minggu yang cerah, para jemaat yang hanya dua puluh satu orang itu dengan pakaian terbaik mereka, tampak berjalan beriringan. Tentu saja, anak-anak berjalan paling depan. Sementara orang-orang dewasa dan senja usia berjalan paling belakang. Bagaimana pun, sepasang mata mereka telah dimangsa rabun dan ketakutan. Karena itu, anak-anak yang masih polos itu adalah penunjuk jalan yang tidak perlu diperdebatkan. Dan, sepuluh kaki dari iring-iringan itu, sepasang anjing pemburu menguntit. Continue reading “Pengakuan Dosa di Negeri Pendosa”
