Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian

Hasnan Bachtiar *

“Kritik sastra…mencerminkan bukan saja kematangan estetik kita, tetapi juga kejelasan intelektual, kesungguhan moral yang sekaligus mentakrif kemanusiaan kita.” (Azhar Ibrahim Alwee)

SUATU artikulasi estetis yang dituangkan dalam karya sastra bukanlah kata-kata tanpa mutu, karena selalu memiliki kualitas-kualitas makna. Makna hidup, makna dunia, dan makna-makna yang terlahir dari nurani penciptanya. Namun yang jarang disadari adalah, sebagai goresan pena penyair, bahwa syair-syair (termasuk kritik sastra) merupakan ungkapan intelektual. Continue reading “Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian”

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000 III*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”

Nurel Javissyarqi

Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina)

Selalu saja saat mengawali tulisan merasakan bergetar, untuk mengurangi debarannya saya mulai dengan kata pengantar demi meringankannya. Continue reading “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000 III*”

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000 II*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”

Nurel Javissyarqi

“A masterpiece always moves, by definition, in the manner of a ghost” (Jaques Derrida, Spectres of Marx).

Lumayan lama tak melanjutkan tulisan, terhitung setengah bulan lebih. Kini menginjak angka 17 nomor saya sukai, bilangannya sama bertanggal kemerdekaan Republik Indonesia tujuh belas, (Agustus 1945). Continue reading “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000 II*”

Bahasa »