Daerah Tak Peduli Dewan Sekolah?

Sutejo *
Kompas, 6 Juli 2001

Keberadaan Dewan Sekolah (DS) yang mendesak diwujudkan tampaknya belum mendapat perhatian serius pihak pemerintah kabupaten/kota. Ini dibuktikan dengan belum berdirinya DS di banyak daerah di Indonesia. Padahal, Dirjen Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Muljani A Nurhadi sejak jauh hari sudah mengingatkan akan pentingnya DS untuk menyukseskan ‘’program’’ desentralisasi pendidikan ke kabupaten/kota. Continue reading “Daerah Tak Peduli Dewan Sekolah?”

Otonomi Pendidikan antara Harapan dan Kecemasan

Sutejo
Radar Madiun, 1 Feb 2001

Dalam implementasi paradigma baru di pendidikan tinggi, yang disusun oleh Task Face Pendidikan Tinggi, bahwa yang dimaksud otonomi dan kebebasan akademik, adalah otonomi yang merupakan hak dan kewenangan. Yang diberikan oleh pihak yang berwenang atau pemerintah, kepada suatu lingkungan masyarakat, himpunan atau badan resmi lain untuk menyelenggarakan fungsinya secara mandiri. Continue reading “Otonomi Pendidikan antara Harapan dan Kecemasan”

Fenomena Sarjana dan Isu Pendidikan Kita

Sutejo
Karya Darma, 28 Sep 1994

Dalam menyongsong Hari Sarjana 28 September 1994, kita patut merenung kembali tentang eksistensi dan realitas sarjana kita. Dan mungkin yang justru menarik, bagaimanakah sebenarnya potret pendidikan kita? Sebab bagaimanapun pendidikan tetap merupakan ujung tombak kualitas bangsa. Kemana tombak itu di situ pula harapan kemajuan bangsa kita gantungkan. Continue reading “Fenomena Sarjana dan Isu Pendidikan Kita”

Mimpi Buruk Pendidikan Kita

Sutejo *
Surya, 14 Agu 1996

Dua belas tahun yang lalu, 1994, pendidikan di negeri kita mengalami prestasi besar dalam upaya pelaksanaan pendidikan universal. Anak-anak negeri yang berusia 7-12 tahun tertampung pendidikannya melalui proyek pendidikan Inpres SD. Ini, secara teoritis menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Padahal, masyarakat dunia baru memandang penting tahun 1990, lewat pencanangan Deklarasi Yontiem tentang Education for all. Continue reading “Mimpi Buruk Pendidikan Kita”

Bahasa »