PARA PENIPU

Taufiq Wr. Hidayat *

Sebuah ruang. Ruang yang tak meniscayakan dinding. Ia boleh saja suatu wilayah terbuka atau tertutup. Tetapi di dalam ruang itu, terjadi peristiwa dalam satuan waktu dan sebentang jarak. Di situ, peristiwa dan tokoh-tokohnya—yang kalah maupun yang mengalahkan, “berputar-putar dalam lingkaran,” kata lagu “Kuda Lumping” (SWAMI II, 1991). Continue reading “PARA PENIPU”

PENANTIAN DAN HUJAN YANG PANJANG

Taufiq Wr. Hidayat *

“Tunggulah aku di ujung jalan itu,” kata seseorang pada kekasihnya.

Alangkah dalam suatu penantian. Dan kenapa seseorang harus menanti? Mungkin di situ bersama hujan, lampu-lampu malam, rumah yang jauh. Dan hujan yang terasa panjang. Seseorang merindukan pulang. Pada ibunya. Ingin kembali berbaring di kasur masa kecilnya, membayangkan wajah entah siapa. Dingin. Malam yang sampai di pedalaman kenangan. Kesendirian yang tak terpecahkan. Continue reading “PENANTIAN DAN HUJAN YANG PANJANG”

SERONG

Taufiq Wr. Hidayat *

Borges menulis fiksi yang cerdik mengelabuhi fakta, mengecoh sejarah dengan usil dan jenaka. Bagi Borges, aib sejarah bukan perbuatan tidak senonoh. Melainkan perilaku menyimpang “orang suci” dari nilai yang diperjuangkannya. Suatu pengkhianatan. Orang yang membela kesucian agama, lalu berbuat serong, maka ia telah berkhianat pada kesucian agama yang dibelanya dan menipu sejarah. Continue reading “SERONG”

KEKUASAAN, DIALOG, KECANTIKAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Penguasaan mencengkeram sampai pada yang privat. Kecantikan yang privat, pada wilayah yang publik dikontrol kekuasaan. Tetapi kecantikan—bagi Maxim Gorky, bukan sebagaimana ajaran iklan kosmetik. Bukan tubuh yang diciptakan sabun, sampo, pemutih ketiak, lulur, bedak, obat pelangsing dan penyubur payudara. Bukan busana yang dibentuk modal kapital sebagai “mode-mode tahayul” guna mengontrol kaum hawa dalam menentukan kecantikan dirinya. Namun ke-bunda-an. Kehidupan tak dapat tumbuh, lantaran nilai-nilai kebundaan tak menyifati tubuh yang memelihara. Tatkala kecantikan ditawan sudut pandang tubuh belaka, ia kehilangan daya bebas dan membangun kesadaran pembebasan. Continue reading “KEKUASAAN, DIALOG, KECANTIKAN”

Bahasa »