Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I)

Nurel Javissyarqi

I
“Mungkin selera saya belum terbentuk dengan baik, pendapat saya mungkin keliru. Pokoknya Anda tahu bahwa saya terbiasa mengatakan terus-terang pendapat saya, atau lebih tepat perasaan saya. Saya curiga bahwa pendapat orang sering dipengaruhi ilusi, mode atau tingkah sesat. Sedangkan saya berbicara secara alamiah. Mungkin saja keadaan alamiah pada diri saya masih belum sempurna, namun boleh jadi juga pendapat alamiah ini masih sangat kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang.” (Voltaire, L’Ingénu, 1767, terjemahan Yayasan Obor Indonesia, Januari 1989). Continue reading “Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I)”

Kusprihyanto Namma dalam Djoernal Sastra Boemipoetra

Wawancara dengan Kusprihyanto Namma “MENYEMAI SAWAH KEBUDAYAAN”
Dimuat Djoernal Sastra Boemipoetra, edisi Oktober-Desember 2009

Sekitar tahun 1994-1997 nama Kusprihyanto Namma sempat melesat pesat menjadi bintang sastra, mengambil perhatian peminat kesusastraan Indonesia. Kus yang merupakan tokoh Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) kemudian tenggelam bagai di telan bumi. Kini Kus mengajar ana-anak di MAN Ngawi. Dari pagi sampai jam 13.00 kegiatan intra. Continue reading “Kusprihyanto Namma dalam Djoernal Sastra Boemipoetra”

Faruk HT: Sastra Bukan Tempat Sunyi Lagi

Wawancara bersama Faruk H.T.
Sariful Lazi
sarifulpenyair.blogspot.com

Sastra Islami dalam beberapa tahun belakang ini sedang laku keras. Apakah fenomena sastra islami akan mengukuhkan genre yang kuat dalam dunia sastra Indonesia atau sekadar tren?

Dr. Faruk, S.U., kritikus Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai sastra islami sebagai karya populer. Yang disebut sastra populer di Indonesia, kata Faruk, agak mungkin menjadi sastra islami. Islam itu pasar. Ini bagian dari proses besar komoditifikasi agama. Continue reading “Faruk HT: Sastra Bukan Tempat Sunyi Lagi”

Ramadhan KH, Perjalanan Mengarifi Kehidupan

Zulfikar Fu’ad
Lampung Post, 30 Maret 2003

SENJA mulai tampak dari wajahnya. Kerut-merut dahinya membentuk bidang garis bertingkat. Flek-flek yang bertebaran di muka menyokong tengara kesepuhan yang paling diwakili rambut memutih. Ramadhan K.H. (76), sebuah nama yang kondang dengan karya-karya tulis monumentalnya. Sebuah nama yang hanya dipisahkan dinding tipis dengan mantan Presiden Soeharto, meskipun secara fisik sangat jauh. Continue reading “Ramadhan KH, Perjalanan Mengarifi Kehidupan”

Bahasa »