Kemerdekaan bagi Orang Desa

Gerry Setiawan
http://www.korantempo.com/

Awal era reformasi, Taufik Ismail dalam puisi paling pendeknya berjudul Merdeka (1998) menulis begini: Merdeka! /Belum/.

Lima tahun setelah reformasi bergulir, Taufik Ismail kembali mempertegas tema merdeka melalui puisi berjudul Aku Malu Menatap Wajah Saudaraku Petani (2003). Napas puisi Taufik Ismail ini menjadi ajang pencerahan bersama, di tengah kesibukan seremonial Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-63 tahun ini. Puisi itu menyimpan 1.001 rahasia kehidupan orang desa yang tak terjamah. Separuh dari warga kita adalah orang desa. Tapi, apakah warga desanya sungguh “merdeka”?

Inilah ruang permenungan kita. Sudah 63 tahun kita menikmati kemerdekaan, tapi kemerdekaan warga desanya jauh dari jiwa kemerdekaan itu sendiri. Ada banyak penjelasan tentang makna kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Taufik Ismail mencoba membawa kita mendekatkan diri pada orang-orang di desa. Ia menggambarkan desa abad ke-21 sebagai “belum merdeka”, bahkan sama buruknya dengan hidup orang desa di abad sebelumnya. Adakah berita baik datang dari desa?

Multikrisis yang pernah mengutuk bangsa ini, seperti krisis iklim, krisis politik, krisis hukum, krisis BBM, dan krisis pangan, selalu menyebabkan orang desa jadi “korban”. Lihatlah, ketika petak-petak sawah mengering, serangan hama datang, pupuk langka, harga panenan ambruk, nelayan tidak bisa melaut karena tak mampu beli solar, dolar menguat gara-gara korupsi politikus.

Telah 63 tahun bangsa ini merdeka, tapi orang desa belum bisa menentukan harga jual atas beras, kacang-kacangan, sayur-mayur, ikan segar, ayam kampung, dan kambing yang mereka panen dari desa mereka sendiri. Sebagian orang desa coba-coba mengais hidup di kota, tapi kehadiran mereka dipandang mengotori kota, terutama yang tiduran di emperan toko atau di bawah kolong jembatan.

Memang, orang desa tempatnya di desa. Tapi orang kota tidak bertanya kenapa orang desa mulai mengembara ke kota. Pipa jumbo dari kota langsung menyedot mata air orang desa. Kayu-kayu bangunan, dari rumah jabatan bupati sampai kantor pak lurah, juga ditebang dari hutan orang desa. Tapi orang desanya tinggal di gubuk reot. Mungkin ini adalah fenomena yang disebut Mao Zedong sebagai “Kota Mengepung Desa” (1923). Semuanya “dijarah” dari desa, tapi warga desa ditinggali tanpa akses akseleratif yang seimbang dan manusiawi.

Lantas dengan apa bangsa ini dapat memerdekakan warga desanya? Dengan subsidi BBM, pupuk gratis, obat hama gratis, alat tangkap murah bagi nelayan, sebanyak mungkin bikin irigasi dan mesin penyedot air, jaringan listrik, sekolah, puskesmas dan klinik, sandang-pangan tercukupi, dan transportasi terjangkau. Sayangnya, upaya memenuhi kebutuhan pembangunan di desa sering hanya dipandang sebagai proyek yang tak jarang terkena “hama” korupsi, aksi sunat-menyunat anggaran, mulai dari kepala desa hingga DPR pusat, bahkan sampai ke jajaran menteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *