Sajak-Sajak Hasan Aspahani

http://kompas-cetak/
Tidur Setelah Dongeng

BOCAH itu pun tertidur tanpa selimut dan bantal setelah satu dongengan tentang bumi yang gempa.

IA bermimpi: rumahnya yang runtuh menjadi istana, dan dia jadi tukang kebun di taman luas istana itu. “Lewat akar bunga-bunga, kusampaikan cinta yang tak terkata pada Bunda Tanah.” Di mana ia lahir dan di mana nanti digali liang makamnya.

IA bermimpi: rumahnya yang puing jadi kapal layar, dan di kapal itu dia jadi juru tali, penduga dalam samudra, penebak badai, dan pemeta arah angin. “Aku hanya ingin kapal ini sampai di Pelabuhan. Dermaga paling damai yang ada gambarnya pada kibaran bendera di tiang tertinggi kapal besar ini.”

IA bermimpi: rumahnya menjadi sekolah. Dan dia jadi guru, mengajarkan siasat puisi dan cara menggambar. “Gambarlah lelehan lava di gunung itu dalam warna hijau, biru, kuning atau ungu. Jangan cuma merah, warna yang kadang sangat suka menipu,” katanya sambil membagi krayon, batang-batang berwarna yang hanya bisa dia angankan bersama teman-temannya: bocah desa.

BOCAH itu pun tertidur tanpa selimut dan bantal setelah satu dongengan tentang bumi yang gempa.

Sebelum Keduanya Ikhlas Kita Lepaskan

DAN kita pun kelak bisu, karena tiba-tiba saja ada sayap di bibirmu dan bibirku.
Lihat mereka terbang dan abadi berkecupan di langit itu.
DAN kita pun kelak buta, sebab mataku dan matamu menjadi awan
menebalkan langit dengan mendung.
Hujan keabadian.
Kita sepasang kekasih buta Dan bisu.
Tanganku mencari tanganmu.
Sebelum keduanya pun ikhlas kita lepaskan
Dari basah tubuh kehujanan

Seperti Dikenalnya
TS Pinang

/1/ JEJAKNYA dihapus gulma, padi sudah lama diketam. Ia ikuti jalan ke hutan. Berburu ketidakmungkinan.

“Pak Petani. Boleh nanti kami pinjam sawahmu?”

Bocah nunggu kemarau. Layangan besar, digambari bentuk-bentuk musykil, dan kata-kata berani.

/2/ DI hutan, ia perhatikan daun keladi dan aglonema, juga kecipak ikan di kubangan hujan. Suara-suara percakapan hewan-hewan. Dan garis-garis sinar matahari pagi di sela-sela kanopi dedaunan.

Eh, ada layangan putus benang, seperti ia kenal bentuk-bentuk musykil itu kini, seperti ia yang membisikkan kata-kata berani itu, dulu sekali….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *