Puisi-Puisi Faisal Syahreza

http://www.surabayapost.co.id/
Burung Surga

telah kuwarisankan
sinar matahari pada matamu
agar gelap malam, tak
mampu mnggetarkanmu
dan engkau tak gigil
dalam kecemasan hari esok
dan pundak daun yang
menitikan embun, adalah
risalah para nabi
bagaimana bercocok tanam
di kebun hati, reranting yang patah
menjadi kisah
di mana dulu
jiwa memeram perih
dan rindu
mengukus segala
kepiluan itu, akan sirna
setelah matamu kau buka
kita tak mampu
melukiskan syukur
para burung-burung
yang belajar terbang
dari dahan pohon
ke hutan
dari kampung ke perkotaan
selalu menebar mewangi surga.
kita sama-sama terpana.

2008

Hujan Airmata

jangan tergesa-gesa menghirup
bau tanah, disepuh hujan
karena jalanan meruapkan kenangan
genangan air memadamkan
kobaran kerinduan
dahaga cinta termusnakan
dari barisan pohon
ada siluetmu
yang termangu menunggu
menggenapkan usiamu
dan dari balik tirai jendela
aku menerka-nerka sudah berapa
peristiwa tercatat di mulut yang nganga : duka
airmata siapa yang
telah mengguyur kota
apakah tuhan sedang di atas
terluka oleh ulah kita.
yang masih sibuk
mengamati lalu-lalang
mengulang kesalahan
mengeja kebencian
dan kesumat dendam.

2008

Sisa

yang tersisa
hanyalah abu duka
dari perselisihan, perang
dan kemelut kita
yang tak pernah
lafal dieja cinta
dan seluruh waktu kita
tumpah sia-sia
yang tersisa hanyalah
puing-puing perih
dari bencana, banjir
dan cobaan
yang tak pernah
fasih kita terjemahkan
sebagai luluran hidup
menguji dan menguji
sejauh mana kita
bisa memahami kelokan
jalan dan liku yang kau sebut hidup
yang tersisa dari
pertengkaran kita
hanyalah airmata dunia
yang tak pernah
kita baca sebagai kisah
penghantar pada
kebahagian terakhir
di kubanagn dosa
dan pencarian pahala.

2008

Zikir Hujan

malam berudara lembab
dan gumam zikirnya
menyapih kemarau berkepanjangan
kita masih, takut basah
oleh sinar rembulan
dan tak mampu
berbenah kamar, halaman
atau rumah sekalian
karena kita masih
cemas dengan serakan
kepedihan kepergian yang
berkedaraan kamatian
hujan menuliskan ayatmu tuhan
pada daunan, kelokan jalan
bahkah di selokan
orang-orang termasuk kita
masih mengasingkan diri
jauh menepi
di negeri sepi
hujan, membangun sendiri
ujudnya yang sunyi
kita tak punya wewenang
pergi, meninggalkan
semua terjadi tanpa peduli

2008

Kealfaan Itu

langit menghamparkan
birunya yang laut
dan putihnya yang susu
kita memotongnya jadikan
sajadah, untuk sebuah sujud
pada adam, pada nuh atau ibrahim
hingga kita menghafal
nama-nama musim, nama-nama hari
dan nama-nama perempuan
hingga kita bisa membangun perahu, pelabuhan
dan terdampar pada bukit
hingga kita bisa mengasah kapak
dan menebang pohonan, juga
merubuhkan gunung
tapi kita lupa
pada satu masa di mana
kita harus sembahyang
pada kali comberan, gunukan
sampah, serta kericuhan dan gaduh
kota, untuk kita isyarakatkan
bahwa kita telah lama
terkulai dan kalah.
dan kita telah
menjadi anak-anak burung
tak bisa terbang, hanya disuapi
udara tuba tak bisa berdoa.
kita telah alfa.
sedang semua sudah
berlalu dan jauh meninggalkan
masanya.

2008

Sama Rata

begitu memilukan
setiap bencana hanya
menyediakan tangisan
kepergian juga kengerian
bagaimana anak-anak
kehilangan harapan, para petani
lemah terkulai, ibu kita
tak tahu lagi apa yang
akan disuguhkan sebagai masakan
dan kita lunglai diam
bagaikan unggun yang padam
ribuan kali
kita nyalakan mimpi kita
disulut semangat kembali oleh
kucuran keringat, dan tangan-tangan
kekar berotot seperti tak berhenti
membangun kota
namun, selalu sia-sia
tak ada cahaya cerah yang
bisa menerpa paras kita.
apakah tumpul doa
ataukah tak ada keinginan
terjaga, menatap esok yang tiba
bukan, bukan itu rupanya
: kita masih kehabisan cinta
untuk dibagi-bagikan sama rata.

2008

Rubiyat Cinta

kegagapan kita
adalah luka
sehingga hari esok
percuma bila tiba
kerna dunia
hanya gulungan tinta
tak habis dikisahkan
dengan hati, dada terbuka
tanpa ada yang mau bisa
mengartikan kebersamaan kita
sebagai rakaat paling khusuk
menohok langit tua
kita, telah lama
tak mau kenal padanya
tak mau melayani dengan sungguh
dan sudi menyentuh asmanya
bibir kita
tak berucap cinta
sedang rahasia hati
hanya ada kepentingan kita.

2008

Bila Bertanya

bila bertanya pada dunia
tanyakan tentang
bagaimana ia teguh
berupa semesta
sedang segalanya
pada akhirnya musnah
dilahap usia
bila bertanya padamu musa
tanyakan tentang
sepuluh perintah
yang masih dilanggar
dan tak pernah tertegakkan
karena semua
hanyut oleh nafsu
bila bertanya padamu isa
tanyakan tentang wajah manusia
yang berbahasa tapi mendua
yang berwarna tapi tak setia
yang berbudi tapi keji
dan semua itu selalu
menghiasai diri ini
bila bertanya padamu muhammad
tanyakan tentang umatmu
dan masihkan kami
sempat berpaling padamu
untuk menjadi penghuni surga
yang engkau bela
sedang kami menghinamu
dan tertawa dengan kebiadaban
yang masih kita bangga-banggakan ini.

2008

Perempuan Peminta

tuhan, demi matahari yang tenggelam
di ufuk senja, yang jingga
meski ku slalu jauh darimu
dan tak taat, kini aku meminta satu hal padamu
hapuskanlah ujud seorang lelaki pada
bayang yang terus merungkungku
dan hingga akhinya lenyap semua kegundahanku
meski pun aku slalu mericuhimu
dengan segala kelupaanku, alfaku
tuhan, telah kurebahkan tubuhku
pada pilar-pilar doamu
meski terkadang kurubuhkan sendiri
zikirku dan segala sujudku kosong
tapi satu hal yang kuingin darimu
nyalakanlah segala api yang mampu
menghanguskan ingatanku tentang seorang lelaki
yang mampu melumpuh dan menjungkalkanku itu
pada pekat malam yang pedih
tuhan, yang tersayang
padamu kini ku berlari dengan kaki-kaki kecilku
meski tiap langkahku pendek dan tak meninggalkan
jejak mulia, tapi kutahu betapa
engkah memiliki segalanya
yang kubutuhkan saat ini, esok maupun lusa
juga seterusnya.
tuhan tersayang, kenikmati segala dari
sudah banyak yang kuselewengkan darimu
dapatkah aku berpaling lagi padamu, dengan
begitu banyak permintaku itu.

2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *