Ketika Bahasa Berbuah Cinta

Mahmud Jauhari Ali

Kita kadang mendengar adanya pertengkaran yang dipicu oleh kata-kata yang merupakan wujud dari bahasa. Bahkan, karena bahasa pula orang dapat saling membunuh satu sama lainnya di dunia ini. Jika kita merenungi kejadian-kejadian yang terjadi karena penggunaan kata-kata, kita akan sampai pada simpulan bahwa bahasa sebenarnya memiliki kekuatan yang dahsyat. Karena bahasa, orang dapat saling bertengkar, dendam, hingga saling membinasakan. Hal di atas merupakan dampak buruk yang disebabkan oleh dahsyatnya bahasa dalam kehidupan kita di dunia ini jika kita tidak dapat menggunakan bahasa sebagaimana mestinya. Akan tetapi, kedahsyatan bahasa dapat pula berdampak pada kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Continue reading “Ketika Bahasa Berbuah Cinta”

Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia

Rukardi
suaramerdeka.com

Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.

Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia. Continue reading “Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia”

Belajar Sastra lewat Cerita Rakyat

Dini Tri
http://suaramerdeka.com/

CERITA rakyat tak melulu dikemas dalam rasa tradisional. Karena dengan mengikuti perkembangan zaman, cerita tersebut semakin menarik tanpa meninggalkan fungsi hiburan dan pendidikan. Seperti sajian drama tradisonal yang disuguhkan siswa-siswi SMPN 4 Sukoharjo yang mengangkat lakon Ande-ande Lumut ini.

Cerita tersebut diambil dari cerita rakyat Raden Panji dan Galuh Candra Kirana. Iringan karawitan sudah diubah dengan beragam gaya musik, dari keroncong, pop, dan R n? B. Bahkan pada akhir cerita, saat Klenting Kuning dan Ande-ande Lumut bersatu, diiringi lagu ?Munajat Cinta? dari The Rock tetapi tetap dengan iringan karawitan. Continue reading “Belajar Sastra lewat Cerita Rakyat”

GENDERANG GENDER: Stereotipe Perempuan dalam Bahasa Indonesia

Meka Nitrit Kawasari*
http://suaramerdeka.com/

BAHASA merupakan komponen komunikasi yang paling utama dalam kehidupan. Ia merupakan sarana untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dalam pikiran manusia. Keterkaitan antara bahasa, kehidupan, dan kelompok sosial menimbulkan bermacam cara dan bentuk pemakaian bahasa.

Pemakaian bahasa itu timbul berdasarkan jenis kelamin, status sosial, latar belakang budaya, dan sebagainya. Pemakaian bahasa berdasarkan jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki, akan mengarah kepada gender. Bahasa yang dipakai keduanya tentu akan berbeda, sehingga menimbulkan penstereotipan perempuan dalam bahasa. Continue reading “GENDERANG GENDER: Stereotipe Perempuan dalam Bahasa Indonesia”

Papua dan Resistensi Sastra Pinggiran

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2009 Tebal: 240 Halaman
Peresensi: Bandung Mawardi *
suaramerdeka.com

NOVEL Tanah Tabu menyapa pembaca dengan naras-narasi kritis tentang perempuan, kapitalisme, patriarki, dan kekuasaan. Novel jadi juru bicara untuk membuka memori kolektif dan memaparkan pelbagai kebobrokan dan marginalisasi terhadap Papua. Biografi Indonesia masih sekadar menjadikan Papua sebagai catatan kaki. Continue reading “Papua dan Resistensi Sastra Pinggiran”

Bahasa ยป