Penghargaan Rancage, Bak di Tengah Padang Tandus

Umi Kulsum
http://kompas-cetak/

Bukan berita baru lagi jika media mengungkapkan perihal bahasa dan sastra daerah yang makin jauh dari masyarakatnya. Perubahan di segala bidang kehidupan, bagaimanapun, memengaruhi pola pikir dan cara hidup masyarakat, termasuk penggunaan bahasa ibu dalam keseharian. Dan, tidak dapat dimungkiri, lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa baku dalam teks, baik buku maupun media, membuat peran bahasa daerah semakin kecil. Continue reading “Penghargaan Rancage, Bak di Tengah Padang Tandus”

Temu Sastrawan Indonesia 2 – Membangun Karakter Lokalitas

Rakhmat Giryadi
surabayapost.co.id

Sastra Indonesia dibangun dari sub kultur yang menyebar di seluruh Indonesia. Sastrawan lokal memiliki andil besar dalam khasanah sastra Indonesia.

Mencermati perkembangan kesusastraan Indonesia belakangan ini, kiranya jelas bahwa poros-poros kesusastraan Indonesia di berbagai daerah makin mengukuhkan keberadaannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kesusastraan Indonesia secara keseluruhan. Continue reading “Temu Sastrawan Indonesia 2 – Membangun Karakter Lokalitas”

Sastra dan Perkembangan Ideologi Nasionalisme

Tjahjono Widarmanto *
Republika Online

Nasionalisme merupakan sebuah ideologi yang menyatakan kesetiaan dan pengabdian individu harus diserahkan pada bangsa. Kelahiran nasionalisme bisa dari kesadaran kolektif, bisa pula kesadaran akibat rekayasa oleh yang berkuasa kepada yang direkayasa, atau bisa pula sebagai reproduksi makna.

Contoh nasionalisme yang muncul akibat kesadaran yang dirakayasa dan dikonstruksi oleh kelompok dominan untuk kelompok subordinate, bisa dilihat pada ideologi nasionalisme yang ada di Indonesia. Continue reading “Sastra dan Perkembangan Ideologi Nasionalisme”

Sajak-Sajak Inggit Putria Marga

http://www.lampungpost.com/
Otak Kiri

air yang terjun menghempas diri ke batu-batu ketika kata-kata ini kukekalkan untukmu, takkan menyamai kudus bening nyanyian yang kau susupkan pertama kali ke telingaku. kidung yang membuat bumi, bagiku, menjadi sedikit longgar dan planet lain seolah berbercak ungu. tapi bebatu tempat air terjun itu terhempas, memulangkan ingatanku ke matamu yang suatu malam tak dapat terkatup pulas, bersinar rapuh dan emas. lantas kukenang engkau seperti pengkhayal mengenang masa lalu paling hulu. sesekali menangis haru, kadang-kadang mengerut malu. tapi air mata atau malu takkan pernah menjelma perahu (atau apa saja yang dapat membuat kita bertemu). maka kubertanya seakan padamu, masihkah perlu kulakukan itu? Continue reading “Sajak-Sajak Inggit Putria Marga”

Iblis Tanjung Barat

Binhad Nurrohmat
http://www.lampungpost.com/

Tak ada yang kucinta selain tuhan
namun tuhan gandrung kepada Adam.

Bijakkah tak kubenci umat manusia
semembara api birahi sekujur semesta?

Tiada musuhku yang melebihi mereka
tapi tuhan memilihnya jadi sekutu
hingga kesumatku tergoda menyulut surga
dan menghanguskannya tanpa sisa. Continue reading “Iblis Tanjung Barat”

Bahasa ยป