Runtuhnya Kekuatan Bahasa Ibu: Madura

M. Mushthafa
cetak.kompas.com

Bahasa ibu -atau yang secara populer, tetapi kurang tepat, disebut juga bahasa daerah- di Indonesia saat ini sedang terancam kepunahan. Globalisasi yang menyerbu melalui berbagai media telah meminggirkan khazanah budaya daerah, termasuk bahasa. Penutur bahasa daerah cenderung semakin sedikit.

Kekhawatiran semacam ini sebenarnya cukup berkembang di Tanah Air, seperti tercermin pada Kongres Kebudayaan Madura Maret 2007 di Sumenep, atau dalam Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang beberapa bulan sebelumnya. Continue reading “Runtuhnya Kekuatan Bahasa Ibu: Madura”

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
gatra.com

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Continue reading “Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)”

Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?

Ajip Rosidi *
newspaper.pikiran-rakyat.com

Ternyata ketika saya menulis tentang “Undang-Undang Kebahasaan” dalam ruangan ini yang memberikan komentar tentang isi rancangan undang-undangnya, Undang-Undang tentang Bahasa sudah disahkan pada 9 Juli 2009. Entah mengapa saya tidak membaca beritanya dalam surat kabar meskipun saya berlangganan tiga macam surat kabar. Apakah tidak dianggap penting sehingga tidak ada surat kabar yang memberitakannya? Atau saya yang cileureun sehingga tidak menemukan berita itu. Baru kemarin saya mendapat kopi “Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan” dan dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 109. Continue reading “Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?”

Kepala Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

KETIKA melihat bulan terang, keinginannya memuncak. Tak bisa ditawar lagi. Selama ini setelah menjadi seorang suami dan bapak yang baik, tak pernah lagi ia melakukan pekerjaan yang paling menyenangkan baginya. Tentu, karena pekerjaan ini mendatangkan kepuasan batin tersendiri buat orang-orang seperti Nurdin.

Tiba-tiba saja angan-angan Nurdin melayang pada masa-masa mudanya. Continue reading “Kepala Batu”

Bahasa ยป